Kamis, 13 Juli 2017

Dinar dkk

61 mitsqal = 4.4432 gram setara dengan 8 daniq, maka timbangan 1 daniq emas dalam satuan gram adalah 4.4432 gram berat 1 mitsqal dibagi dengan 8 daniq = 0.555 gram, berat 1 daniq.
1 mitsqal = 20 qirath, maka berat 1 qirath dalam satuan gram adalah 4.4432 gram berat 1 mitsqal dibagi dengan 20 qirath = 0.222 gram, berat 1 qirath.
1 mitsqal sama beratnya dengan timbangan 72 biji gandum, maka timbangan 1 biji gandum dalam satuan gram adalah 4.4432 gram berat 1 mitsqal dibagi berat 72 biji gandum = 0.0616 gram, berat emas sebesar biji gandum, yang sama dengan berat 83.3 biji khardal.
1 dirham sama dengan 7/10 mitsqal, dan tiap 10 dirham sama dengan 7 mitsqal, maka berat timbangan 1 dirham dalam satuan gram adalah 4.4432 gram berat 1 mitsqal x7/10 = 3.1103 gram, berat 1 dirham.
10 dirham yang timbangan beratnya 7 mitsqal, timbangan berat 10 dirham dalam satuan gram adalah 10 dirham x 3.11 gram berat 1 dirham = 31.103 gram, berat timbangan 10 dirham
atau 7 mitsqal sama dengan 10 dirham, maka timbangan berat 7 mitsqal dalam satuan gram adalah 7 mitsqal x 4.4432 gram berat 1 mitsqal = 31.103 gram, timbangan 7 mitsqal.
Berat 1 dirham sama dengan 6 daniq , maka berat 1 daniq perak dalam satuan gram adalah 3.1103 gram berat 1 dirham dibagi dengan 6 daniq = 0.518 gram, berat 1 daniq perak. (*daniq telah dicetak pertamakali secara akurat oleh Islamic Mint Nusantara)
1 uqiyah yang digunakan untuk menimbang dirham itu sama dengan 40 dirham, maka timbangan perak uqiyah dalam satuan gram adalah 3.1103 gram berat 1 dirham x 40 dirham berat 1 uqiyah = 124.412 gram, berat 1 uqiyah perak

i. sumbernya dr www(dot)wakalanusantara(dot)com. DINAR EMAS: (1/2) Dinar = Rp. 1.155.000, 1 Dinar = Rp. 2.310.000, Dinarayn = Rp. 4.620.000,- DIRHAM PERAK: Daniq (1/6) Dirham = Rp. 11.600, Nisfu (1/2) Dirham = Rp. 35.000, 1 Dirham = Rp. 70.000, Dirhamayn (2 Dirham) = Rp. 140.000, Khamsa (5 Dirham) = Rp. 350.000. 1 Dinar Emas = 33 Dirham perak

Owh jadi da beberapa jenis yah…?

Hey.. Itu Bukan beberapa jenis.. Jenisnya cuma 1 doang. Dinar=Emas, Dirham=Perak. Itu mah cuma harga ajah… Maksudnya, Dinar itu pecahan paling kecilnya 1/2 Dinar, dan Dirham 1/6 dirham.. Gitu 🙂 (CMIIW)

Dirham itu dr perak? Dinar itu dr emas? berarti 1 dinar bisa sampe 5gr emas?. Hehehe maaf2… makanya nanya soalnya ga ngerti 😉 ayo jadi 500 dirham berapa dinar? itungin dunk 😀

Nanti saya hitung dulu yah :). Kalo 500 Dirham zaman Rasulullah (yg dijadikan Mahar untuk Khadijah) itu setara kisaran Rp. 325.000,- (lihat penjelasan Ust. Fauzil Adhim, penulis Buku Kupinang Engkau dengan Hamdalah di sini, http://chirpstory.com/li/139875)

Owh 😀

Saya blm selesai ngitung Dinar yah :). tapi, kalo pakenya kurs hari ini, 500 dirham itu setara sekitar 15.000.000,-. Jadi, kalo ada yang mau nikah dan mau kasih mahar seperti Nabi dengan kurs hari ini, ya segitu maharnya 🙂

Hah? 15 juta serius? Kan tadi 1 dirham harganya cuma 35rb?

Eh, maaf typo, tadi salah hitung. Bukan 15.000.000 tapi 35.000.000. (tiga puluh lima juta rupiah!) Aaaaaaaaaahhrgg :p. 1 dirham kurs hari ini 70.000. 70.000 x 500 dirham = 35.000.000

Iyah 35juta :-p… Beuh…, ini di abstraksi hadist yg di bulughul maram, Rosul memberikan mahar 500 dirham ke setiap istrinya…ckckck

Ya segitu :), ini hasil hitungannya, 1 Dinar = 4,25 Gram (satuan berat), 1 Dinar = 33 Dirham, 500 Dirham = 15,2 Dinar, 1 Dinar = Rp. 2.310.000, dan 1 Dirham = 70.000,

Tapi ada penjelasan yang saya suka. Bahwa pernikahan tidak dilihat dari nilai mahar yang tinggi, tapi dari niat yang suci untuk beribadah kepada Allah”. Islam memang luar biasa, Rasul mencontohkan mahar tertinggi tapi memberikan alternative dan solusi yang menarik dengan kisah-kisah yang indah, missal ada seorang sahabat yang menikah dengan sekedar hafalan surat al-Baqarah.

Baca juga di hadits ini “Sesungguhnya pernikahan yang paling besar barakahnya ialah yang paling mudah maharnya”. HR. Ahmad. Keberhan pernikahan diawali dari mudahnya mahar (baca penjelasan dr Ust. Fauzil Adhim di atas)

Beuh.. Rasul tajir banget yah, ngasih 35juta untuk mahar ke setiap istrinya. Berat euy etamah :-D. Kapan nikahnya kalo harus ngumpul segitu dulu xixixixi..

Hehehe.. saya sms diawal tadi, 500 Dirham zaman Nabi itu sama dengan Rp. 325.000. 35.000.000 itu pake kurs hari ini. Ust. Fauzil Adhim dipenjelasannya mengatakan, dipersilakan mau ambil yang mana, yang tidak memberatkan :).

Yah, dari Uqbah bin Amir ra, bahwa Rasulullah saw bersabda “Sebaik-baik mahar ialah yang paling ringan”. Riwayat Abu Daud. *like this.

Karena mahar itu pemberian dari laki-laki, maka yang ketar-ketir itu laki-laki. Galau kalo ngomongin itu :p

Tapi kesimpulan haditsnya: Islam memberi keringanan ketika sesuatu itu telah menjadi berat dilaksanakan.. *Pernah baca dimana gitu lupa. “Sebaik-baik perempuan adalah yang meringankan mahar.

فضيلة قراءة سورة الكهف

فإن قراءة سورة الكهف ليلة الجمعة أو يومها مستحبة، قال في فتح القدير يندب قراءتها يوم الجمعة وكذا ليلتها كما نص عليه الشافعي وقد أخرج الحاكم في المستدرك والبيهقي في السنن عن أبي سعيد الخدري رضي الله تعالى عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: "من قرأ سورة الكهف يوم الجمعة أضاء له من النور ما بين الجمعتين". 
وفي رواية عند الحاكم أنه صلى الله عليه وسلم قال: "من قرأ سورة الكهف كما أنزلت، كانت له نوراً يوم القيامة من مقامه إلى مكة، ومن قرأ عشر آياتٍ من آخرها ثم خرج الدجال لم يسلط عليه...". 
وهذه الزيادة التي وردت في هذه الرواية أخرجها مسلم في صحيحه وأبو داود والترمذي في سننهما وأحمد في مسنده. 

Rabu, 12 Juli 2017

Laki

*HARI INI HARI SUAMI SE DUNIA LHO*

*LAKI2 adalah ciptaan TUHAN yg paling tegar*

Dia bina MASA DEPAN mereka sekluarga dgn *hutang* & membayar cicilan

Dia tlh bersusah payah, tp msh selalu *dimarahi* , Bayangin msh kecil di Marahi ORTU, Sekolah diMarahi GURU, kerja diMarahi BOSS, Nikah diMarahi ISTERi, tua diMarahi ANAK CUCU, Matipun bisa2 diMarahi  MALAIKAT 😄😄😄

Kehidupan dia berakhir hanya utk *MENGALAH demi KEBAHAGIAAN org lain*

Klu dia keluar rmh, kata org dia *NGELAYAP*

Klu dia tinggal di rmh, kata org dia *MALAS*

Klu dia marahi anak2, kata org dia *GALAK*

Klu dia tak marah, kata org dia laki2 *TDK TEGAS*

Klu dia tak bolehkan isteri  bekerja, kata org dia *MENGEKANG*

Klu dia bolehkan isteri
bekerja, kata org dia *MAKAN gaji isteri*

Klu dia dengar apa kata ibunya, kata org dia *ANAK MAMI*

Klu dia dengar kata isterinya, kata org dia *DKI* (Di bawah Ketiak Istri)

Klu dia byk MENOLONG wanita yg membutuhkan, dibilang *HIDUNG BELANG*

Klu GAK MAU TOLONG wanita lain, katanya *KEJAM*

*Tp di tengah terpaan segala macam tuduhan, dia ttp TEGAR*

Kirim ke semua LAKI2, 
Spy mereka TERSENYUM 😊;
&  kpd semua wanita,
Spy mereka SADAR, bhw LAKI2 itu amat BERHARGA.

*Slamat Hari SUAMI sedunia* 😬❤😎

Senin, 10 Juli 2017

DUA MURID KIAI HASYIM YG MASIH HIDUP

Adalah Kiai Rusmani, murid Hadratusy Syekh yang masih hidup. Kini berusia 100 tahun lebih dan tinggal di Wonogiri (Dukuh Miri, desa Kedawung, kecamatan Kismantoro). Mendadak raut wajahnya bersedih dan tak kuasa menahan tangis saat disodorkan kepadanya gambar kiai Hasyim Asy'ari. "Mengapa menangis, mbah ?", selidik sahabat Mun'im DZ ingin tahu. "Kulo mboten saget nerasaken perjuanganipun hadratusy syekh", jawabnya menunduk.

Lain lagi, memori yang membekap murid kiai Hasyim yang juga masih hidup. KH Amin Badjuri, kini berusia 96 tahun dan tinggal di Purworejo (Desa Brunosari, kecamatan Bruno. Populer dengan nama mbah Abdurrahman. Di daerah itu jika bertanya tentang beliau, sudah sangat kondang). Pesan hadratusy syekh yang masih diingat betul, "Kowe suk luruo duit nggo agomo. Ojo agomo nggo luru duit" (perhatikan ijazahnya yang masih utuh).

Rabu, 28 Juni 2017

Kumpulan Hadits

. Mushafahah Dapat Melebur Dosa

.‎روى الإمام أبو داود والترمذي وابن أبي شيبة –رحمهم الله تعالى- عن البراءبن عازب ‏رضي الله عنهما‎ ‎قال: قال رسول الله  "ما من مسلمين يلتقيان، فيتصافحان إلا غفر لهما ‏قبل أن يتفرقا".‏

Diriwayatkan oleh Al-Barra’ bin Azib, bahwa Rasulullah  bersada, “bila seorang muslim bertemu, kemudian ia mengucapkan salam dan berjabat tangan, maka ‎Allah تعالى akan mengampuni dosa kedua orang tersebut, hinggamereka berpisah”. (HR. ‎Abu Dawud dan Tarmidzi).

Selasa, 27 Juni 2017

Sejarah adat Islam di Indonesia

*ISLAM Kejawaan*
(Taddaburan/maiyahan)
di Indonesia.
Alhamdulillah, akhir-akhir ini orang merasakan manfaatnya Nahdlatul Ulama (NU).
Dulu, orang yang paling bahagia, paling sering merasakan berkahnya NU adalah keluarga orang yang sudah meninggal :
*setiap hari dikirimi doa dan tumpeng*.
Hari ini begitu dunia dilanda kekacauan, ketika Dunia Islam galau: di Afganistan perang sesama Islam, di Suriah perang sesama Islam, di Irak, perang sesama Islam.
Semua ingin tahu, ketika semua sudah jebol, kok ada yang masih utuh:
*Islam di Indonesia*.
Akhirnya semua ingin kesini, seperti apa Islam di Indonesia kok masih utuh.
Akhirnya semua sepakat:
*utuhnya Islam di Indonesia itu karena memiliki jamiyyah NU, Akhirnya semua pingin tahu NU itu seperti apa*.
Ternyata, jaman dulu ada orang Belanda yang sudah menceritakan santri NU, namanya Christia Snouck Hurgronje.
Dia ini hafal Alquran, Sahih Bukhori, Sahih Muslim, Alfiyyah Ibnu Malik, Fathul Mu’in , tapi tidak islam, sebab tugasnya menghancurkan Islam Indonesia.
Mengapa?
Karena Islam Indonesia selalu melawan Belanda.
Sultan Hasanuddin, santri.
Pangeran Diponegoro atau Mbah Abdul Hamid, santri.
Sultan Agung, santri.
Mbah Zaenal Mustofa, santri.
Semua santri kok melawan Belanda.
Akhirnya ada orang belajar secara khusus tentang Islam, untuk mencari rahasia bagaimana caranya Islam Indonesia ini remuk.
Snouck Hurgronje masuk ke Indonesia dengan menyamar namanya Syekh Abdul Ghaffar.
Dia belajar Islam, menghafalkan Alquran dan Hadis di Arab.
Maka akhirnya paham betul Islam.
Hanya saja begitu ke Indonesia, Snouck Hurgronje bingung: mencari Islam dengan wajah Islam, tidak ketemu.
Ternyata Islam yang dibayangkan dan dipelajari Snouck Hurgronje itu tidak ada.
Mencari Allah disini tidak ketemu, ketemunya Pangeran.
Ketemunya Gusti.
Padahal ada pangeran namanya Pangeran Diponegoro.
Ada Gusti namanya Gusti Kanjeng.
Mencari istilah shalat tidak ketemu, ketemunya sembahyang.
Mencari syaikhun, ustadzun , tidak ketemu, ketemunya kiai.
Padahal ada nama kerbau namanya kiai slamet.
Mencari mushalla tidak ketemu, ketemunya langgar.
Maka, ketika Snouck Hurgronje bingung, dia dibantu Van Der Plas.
Ia menyamar dengan nama Syekh Abdurrahman.
Mereka memulai dengan belajar bahasa Jawa.
Karena ketika masuk Indonesia, mereka sudah bisa bahasa Indonesia, bahasa Melayu, tapi tidak bisa bahasa Jawa.
Begitu belajar bahasa Jawa, mereka bingung, strees.
Orang disini makanannya nasi (sego). Snouck Hurgronje dan Van Der Plas tahu bahasa beras itu, bahasa inggrisnya rice, bahasa arabnya ar-ruz .
Yang disebut ruz, ketika di sawah, namanya pari, padi.
Disana masih ruz, rice.
Begitu padi dipanen, namanya ulen-ulen, ulenan.
Disana masih ruz, rice. Jadi ilmunya sudah mulai kucluk , korslet.
Begitu ditutu, ditumbuk, digiling, mereka masih mahami ruz, rice , padahal disini sudah dinamai gabah.
Begitu dibuka, disini namanya beras, disana masih ruz, rice .
Begitu bukanya cuil, disini namanya menir, disana masih ruz, rice.
Begitu dimasak, disini sudah dinamai sego , nasi, disana masih ruz, rice.
Begitu diambil cicak satu, disini namanya upa, disana namanya masih ruz, rice.
Begitu dibungkus daun pisang, disini namanya lontong, sana masih ruz, rice.
Begitu dibungkus janur kuning namanya ketupat, sana masih ruz, rice.
Ketika diaduk dan hancur, lembut, disini namanya bubur, sana namanya masih ruz, rice.
Inilah bangsa aneh, yang membuat Snouck Hurgronje judeg, pusing.
Mempelajari Islam Indonesia tidak paham, akhirnya mencirikan Islam Indonesia dengan tiga hal.
Pertama, kethune miring sarunge nglinting (berkopiah miring dan bersarung ngelinting).
Kedua, mambu rokok (bau rokok).
Ketiga, tangane gudigen (tangannya berpenyakit kulit).
Cuma tiga hal itu catatan (pencirian Islam Indonesia) Snouck Hurgronje di Perpustakaan Leiden, Belanda.
Tidak pernah ada cerita apa-apa, yang lain sudah biasa.
*Maka, jangankan Snouck Hurgronje, orang Indonesia saja kadang tidak paham dengan Islam Indonesia, karena kelamaan di tanah Arab*.
Lihat tetangga pujian, karena tidak paham, bilang bid’ah .
Melihat tetangga menyembelih ayam untuk tumpengan, dibilang bid’ah.
Padahal itu produk Islam Indonesia. Kelamaan diluar Indonesia, jadi tidak paham.
Masuk kesini sudah kemlinthi, sok-sokan, memanggil Nabi dengan sebutan “Muhammad” saja.
Padahal, disini, tukang bakso saja dipanggil “Mas”.
Padahal orang Jawa nyebutnya Kanjeng Nabi.
Lha , akhir-akhir ini semakin banyak yang tidak paham Islam Indonesia. Kenapa?
Karena Islam Indonesia keluar dari rumus-rumus Islam dunia, Islam pada umumnya. Kenapa?
Karena Islam Indonesia ini saripati (essensi) Islam yang paling baik yang ada di dunia.
Kenapa?
Karena Islam tumbuhnya tidak disini, tetapi di Arab.
Rasulullah orang Arab.
Bahasanya bahasa Arab.
Yang dimakan juga makanan Arab.
Budayanya budaya Arab.
Kemudian Islam datang kesini, ke Indonesia.
Kalau Islam masuk ke Afrika itu mudah, tidak sulit, karena waktu itu peradaban mereka masih belum maju, belum terdidik.
Orang belum terdidik itu mudah dijajah.
Seperti pilkada, misalnya, diberi Rp 20.000 atau mie instan sebungkus, beres.
Kalau mengajak orang berpendidikan, sulit, dikasih uang Rp 10 juta belum tentu mau.
Islam datang ke Eropa juga dalam keadaan terpuruk.
Tetapi Islam datang kesini, mikir-mikir dulu, karena bangsa di Nusantara ini sedang kuat-kuatnya.
Bangsa anda sekalian ini bukan bangsa kecoak.
Ini karena ketika itu sedang ada dalam kekuasaan negara terkuat yang menguasai 2/3 dunia, namanya *Majapahit*.
Majapahit ini bukan negara sembarangan.
Universitas terbesar di dunia ada di Majapahit, namanya *Nalanda*.
Hukum politik terbaik dunia yang menjadi rujukan adanya di Indonesia, waktu itu ada di Jawa, kitabnya bernama *Negarakertagama*.
Hukum sosial terbaik ada di Jawa, namanya *Sutasoma*.
Bangsa ini tidak bisa ditipu, karena orangnya pintar-pintar dan kaya-raya.
Cerita surga di Jawa itu tidak laku.
Surga itu
(dalam penggambaran Alquran):
tajri min tahtihal anhaar (airnya mengalir), seperti kali.
Kata orang disini: “mencari air kok sampai surga segala?
Disini itu, sawah semua airnya mengalir.” Artinya, pasti bukan itu yang diceritakan para ulama penyebar Islam.
Cerita surga tentang buahnya banyak juga tidak, karena disini juga banyak buah.
Artinya dakwah disini tidak mudah.
Diceritain pangeran, orang Jawa sudah punya Sanghyang Widhi.
Diceritain Ka’bah orang jawa juga sudah punya stupa:
sama-sama batunya dan tengahnya sama berlubangnya.
Dijelaskan menggunakan tugu Jabal Rahmah, orang Jawa punya Lingga Yoni.
Dijelaskan memakai hari raya kurban, orang Jawa punya peringatan hari raya kedri.
Sudah lengkap.
Islam datang membawa harta-benda, orang Jawa juga tidak doyan.
Kenapa?
Orang Jawa pada waktu itu beragama hindu.
*Hindu itu berprinsip yang boleh bicara agama adalah orang Brahmana, kasta yang sudah tidak membicarakan dunia*.
Dibawah Brahmana ada kasta Ksatria, seperti kalau sekarang Gubernur atau Bupati.
Ini juga tidak boleh bicara agama, karena masih ngurusin dunia.
Dibawah itu ada kasta namanya Wesya (Waisya), kastanya pegawai negeri.
Kasta ini tidak boleh bicara agama.
Di bawah itu ada petani, pedagang dan saudagar, ini kastanya Sudra .
Kasta ini juga tidak boleh bicara agama.
Jadi kalau ada cerita Islam dibawa oleh para saudagar, tidak bisa dterima akal.
Secara teori ilmu pengetahuan ditolak, karena saudagar itu Sudra dan Sudra tidak boleh bicara soal agama.
Yang cerita Islam dibawa saudagar ini karena saking judeg-nya, bingungnya memahami Islam di Indonesia.
Dibawahnya ada kasta paria, yang hidup dengan meminta-minta, mengemis.
Dibawah Paria ada pencopet, namanya kasta Tucca.
Dibawah Tucca ada maling, pencuri, namanya kasta Mlecca.
Dibawahnya lagi ada begal, perampok, namanya kasta Candala.
Anak-anak muda NU harus tahu.
Itu semua nantinya terkait dengan Nahdlatul Ulama.
Akhirnya para ulama kepingin, ada tempat begitu bagusnya, mencoba diislamkan.
Ulama-ulama dikirim ke sini.
Namun mereka menghadapi masalah, karena orang-orang disini mau memakan manusia.
Namanya aliran Bhirawa.
Munculnya dari Syiwa.
Mengapa ganti Syiwa, karena Hindu Brahma bermasalah.
Hindu Brahma, orang Jawa bisa melakukan tetapi matinya sulit.
Sebab orang Brahma matinya harus moksa atau murco.
Untuk moksa harus melakukan upawasa.
Upawasa itu tidak makan, tidak minum, tidak ngumpulin istri, kemudian badannya menyusut menjadi kecil dan menghilang.
Kadang ada yang sudah menyusut menjadi kecil, tidak bisa hilang, gagal moksa, karena teringat kambingnya, hartanya.
Lha ini terus menjadi jenglot atau batara karang.
Jika anda menemukan jenglot ini, jangan dijual mahal karena itu produk gagal moksa.
Pada akhirnya, ada yang mencari ilmu yang lebih mudah, namanya ilmu ngrogoh sukmo .
Supaya bisa mendapat ilmu ini, mencari ajar dari Kali.
Kali itu dari Durga.
Durga itu dari Syiwa, mengajarkan Pancamakara.
Supaya bisa ngrogoh sukmo, semua sahwat badan dikenyangi, laki-laki perempuan melingkar telanjang, menghadap arak dan ingkung daging manusia.
Supaya syahwat bawah perut tenang, dikenyangi dengan seks bebas.
Sisa-sisanya sekarang ada di Gunung Kemukus.
Supaya perut tenang, makan tumpeng.
Supaya pikiran tenang, tidak banyak pikiran, minum arak.
Agar ketika sukma keluar dari badan, badan tidak bergerak, makan daging manusia.
Maka jangan heran kalau muncul orang-orang macam Sumanto.
Ketika sudah pada bisa ngrogoh sukmo, ketika sukmanya pergi di ajak mencuri namanya ngepet .
Sukmanya pergi diajak membunuh manusia namanya santet.
Ketika sukmanya diajak pergi diajak mencintai wanita namanya pelet.
Maka kemudian di Jawa tumbuh ilmu santet, pelet dan ngepet.
Ada 1.500 ulama yang dipimpin Sayyid Aliyudin habis di-ingkung oleh orang Jawa pengamal Ngrogoh Sukma.
Untuk menghindari pembunuhan lagi, maka Khalifah Turki Utsmani mengirim kembali tentara ulama dari Iran, yang tidak bisa dimakan orang Jawa.
Nama ulama itu Sayyid Syamsuddin Albaqir Alfarsi.
Karena lidah orang Jawa sulit menyebutnya, kemudian di Jawa terkenal dengan sebutan Syekh Subakir.
Di Jawa ini di duduki bala tentara Syekh Subakir, kemudian mereka diusir.
Ada yang lari ke Pantai Selatan, Karang Bolong, Srandil Cicalap, Pelabuhan Ratu, dan Banten.
Di namai Banten, di ambil dari bahasa Sansekerta, artinya Tumbal.
Yang lari ke timur, naik Gunung Lawu, Gunung Kawi, Alas Purwo Banyuwangi (Blambangan).
Disana mereka dipimpin Menak Sembuyu dan Bajul Sengoro.
Karena Syekh Subakir sepuh, maka pasukannya dilanjutkan kedua muridnya namanya Mbah Ishak (Maulana Ishak) dan Mbah Brahim (Ibrahim Asmoroqondi).
Mereka melanjutkan pengejaran. Menak Sembuyu menyerah, anak perempuannya bernama Dewi Sekardadu dinikahi Mbah Ishak, melahirkan Raden Ainul Yaqin Sunan Giri yang dimakamkan di Gresik.
Sebagian lari ke Bali, sebagian lari ke Kediri, menyembah Patung Totok Kerot, diuber Sunan Bonang, akhirnya menyerah.
Setelah menyerah, melingkarnya tetap dibiarkan tetapi jangan telanjang, arak diganti air biasa, ingkung manusia diganti ayam, matra ngrogoh sukmo diganti kalimat tauhid; laailaahaillallah.
Maka kita punya adat tumpengan.
Kalau ada orang banyak komentar mem-bid’ah -kan, ceritakanlah ini.
Kalau ngeyel, didatangi:
tabok mulutnya.
*Ini perlu diruntutkan, karena NU termasuk yang masih mengurusi beginian*.
Habis itu dikirim ulama yang khusus mengajar ngaji, namanya Sayyid Jamaluddin al-Husaini al-Kabir.
Mendarat di Semarang dan menetap di daerah Merapi.
Orang Jawa sulit mengucapkan, maka menyebutnya Syekh Jumadil Kubro.
Disana dia punya murid namanya Syamsuddin, pindah ke Jawa Barat, membuat pesantren puro di daerah Karawang.
Punya murid bernama Datuk Kahfi, pindah ke Amparan Jati, Cirebon.
Punya murid Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati.
*Inilah yang bertugas mengislamkan Padjajaran*.
Maka kemudian ada Rara Santang, Kian Santang dan Walangsungsang.
Nah , Syekh Jumadil Kubro punya putra punya anak bernama Maulana Ishak dan Ibrahim Asmoroqondi, bapaknya Walisongo.
Mbah Ishak melahirkan Sunan Giri.
Mbah Ibrahim punya anak Sunan Ampel.
*Inilah yang bertugas mengislamkan Majapahit*.
Mengislamkan Majapahit itu tidak mudah.
Majapahit orangnya pinter-pinter.
Majapahit Hindu, sedangkan Sunan Ampel Islam.
Ibarat sawah ditanami padi, kok malah ditanami pisang.
Kalau anda begitu, pohon pisang anda bisa ditebang.
Sunan Ampel berpikir bagaimana caranya?
Akhirnya beliau mendapat petunjuk ayat Alquran.
Dalam surat Al-Fath, 48:29 disebutkan :
".... masaluhum fit tawrat wa masaluhum fil injil ka zar’in ahraja sat’ahu fa azarahu fastagladza fastawa ‘ala sukıhi yu’jibuz zurraa, li yagidza bihimul kuffar………”
Artinya:
“…………Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanam
nya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin)……………”
Islam itu seperti tanaman yang memiliki anak-anaknya, kemudian hamil, kemudian berbuah, ibu dan anaknya bersama memenuhi pasar, menakuti orang kafir.
Tanaman apa yang keluar anaknya dulu baru kemudian ibunya hamil?
Jawabannya adalah padi.
Maka kemudian Sunan Ampel dalam menanam Islam seperti menanam padi.
Kalau menanam padi tidak di atas tanah, tetapi dibawah tanah, kalau diatas tanah nanti dipatok ayam, dimakan tikus.
Mau menanam Allah, disini sudah ada istilah pangeran.
Mau menanam shalat, disini sudah ada istilah sembahyang.
Mau menanam syaikhun, ustadzun, disini sudah ada kiai.
Menanam tilmidzun, muridun , disini sudah ada shastri, kemudian dinamani santri.
Inilah ulama dulu, menanamnya tidak kelihatan.
Menanamnya pelan-pelan, sedikit demi sedikit:
kalimat syahadat, jadi kalimasada. Syahadatain, jadi sekaten. Mushalla, jadi langgar.
Sampai itu jadi bahasa masyarakat. Yang paling sulit mememberi pengertian orang Jawa tentang mati.
Kalau Hindu kan ada reinkarnasi.
Kalau dalam Islam, mati ya mati (tidak kembali ke dunia).
Ini paling sulit, butuh strategi kebudayaan.
Ini pekerjaan paling revolusioner waktu itu.
Tidak main-main, karena ini prinsip.
Prinsip inna lillahi wa inna ilaihi rajiun berhadapan dengan reinkarnasi.
Bagaimana caranya?
Oleh Sunan Ampel, inna lillahi wa inna ilaihi rajiun kemudian di-Jawa-kan:
Ojo Lali Sangkan Paraning Dumadi.
Setelah lama diamati oleh Sunan Ampel, ternyata orang Jawa suka tembang, nembang, nyanyi.
Beliau kemudian mengambil pilihan: mengajarkan hal yang sulit itu dengan tembang.
Orang Jawa memang begitu, mudah hafal dengan tembang.
Orang Jawa, kehilangan istri saja tidak lapor polisi, tapi nyanyi:
ndang baliyo, Sri, ndang baliyo .
Lihat lintang, nyanyi: yen ing tawang ono lintang, cah ayu.
Lihat bebek, nyanyi: bebek adus kali nyucuki sabun wangi.
Lihat enthok: menthok, menthok, tak kandhani, mung rupamu.
Orang Jawa suka nyanyi, itulah yang jadi pelajaran.
Bahkan, lihat silit (pantat) saja nyanyi: … ndemok silit, gudighen.
Maka akhirnya, sesuatu yang paling sulit, berat, itu ditembangkan.
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun diwujudkan dalam bentuk tembang bernama Macapat .
Apa artinya Macapat?
Bahwa orang hidup harus bisa membaca perkara Empat.
Keempat perkara itu adalah teman nyawa yang berada dalam raga ketika turun di dunia.
Nyawa itu produk akhirat.
Kalau raga produk dunia.
Produk dunia makanannya dunia, seperti makan.
Yang dimakan, sampah padatnya keluar lewat pintu belakang, yang cair keluar lewat pintu depan.
Ada sari makanan yang disimpan, namanya mani (sperma).
Kalau mani ini penuh, bapak akan mencari ibu, ibu mencari bapak, kemudian dicampur dan dititipkan di rahim ibu.
Tiga bulan jadi segumpal darah, empat bulan jadi segumpal daging.
Inilah produk dunia.
Begitu jadi segumpal daging, nyawa dipanggil. “Dul, turun ya,”. “Iya,
Ya Allah”. “Alastu birabbikum?”
(apakah kamu lupa kalau aku Tuhanmu?).
“Qalu balaa sahidnya,”
(Iya Ya Allah, saya jadi saksi-Mu), jawab sang nyawa,.
”fanfuhur ruuh”
(maka ditiupkanlah ruh itu ke daging).
Maka daging itu menjadi hidup.
Kalau tidak ditiup nyawa, tidak hidup daging ini.
(lihat, a.l.: Q.S. Al-A’raf, 7:172, As-Sajdah: 7 -10, Al-Mu’min: 67, ed. )
Kemudian, setelah sembilan bulan, ruh itu keluar dengan bungkusnya, yaitu jasad.
Adapun jasadnya sesuai dengan orang tuanya:
kalau orang tuanya pesek anaknya ya pesek; orang tuanya hidungnya mancung anaknya ya mancung; orang tuanya hitam anaknya ya hitam; kalau orang tuanya ganteng dan cantik, lahirnya ya cantik dan ganteng.
Itu disebut Tembang Mocopat:
orang hidup harus membaca perkara empat.
Keempat itu adalah teman nyawa yang menyertai manusia ke dunia, ada di dalam jasad.
Nyawa itu ditemani empat:
*dua adalah Iblis yang bertugas menyesatkan, dan dua malaikat yang bertugas nggandoli, menahan*.
*Jin qarin dan hafadzah*.
Itu oleh Sunan Ampel disebut Dulur Papat Limo Pancer.
Ini metode mengajar.
Maka pancer ini kalau mau butuh apa-apa bisa memapakai dulur tengen (teman kanan) atau dulur kiwo (teman kiri).
Kalau pancer kok ingin istri cantik, memakai jalan kanan, yang di baca
Ya Rahmanu Ya Rahimu
tujuh hari di masjid, yang wanita nantinya juga akan cinta.
Tidak mau dulur tengen, ya memakai yang kiri, yang dibaca aji-aji Jaran Goyang, ya si wanita jadinya cinta, sama saja.
Kepingin perkasa, kalau memakai kanan yang dipakai kalimah
La haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzim .
Tak mau yang kanan ya memakai yang kiri, yang dibaca aji-aji Bondowoso, kemudian bisa perkasa.
Mau kaya kalau memakai jalan kanan ya shalat dhuha dan membaca
Ya Fattaahu Ya Razzaaqu , kaya.
Kalau tidak mau jalan kanan ya jalan kiri, membawa kambing kendhit naik ke gunung kawi, nanti pulang kaya.
Maka, kiai dengan dukun itu sama; sama hebatnya kalau tirakatnya kuat.
Kiai yang ‘alim dengan dukun yang tak pernah mandi, jika sama tirakatnya, ya sama saktinya:
sama-sama bisa mencari barang hilang.
Sama terangnya.
Bedanya: satu terangnya lampu dan satunya terang rumah terbakar.
Satu mencari ayam dengan lampu senter, ayamnya ketemu dan senternya utuh;
sedangkan yang satu mencari dengan blarak (daun kelapa kering yang dibakar), ayamnya ketemu, hanya blarak-nya habis terbakar.
*Itu bedanya nur dengan nar*.
Maka manusia ini jalannya dijalankan seperti tembang yang awalan, Maskumambang:
kemambange nyowo medun ngalam ndunyo , sabut ngapati, mitoni , ini rohaninya, jasmaninya ketika dipasrahkan bidan untuk imunisasi.
Maka menurut NU ada ngapati, mitoni,
karena itu turunnya nyawa.
Setelah Maskumambang, manusia mengalami tembang Mijil.
Bakal Mijil :
lahir laki-laki dan perempuan.
Kalau lahir laki-laki aqiqahnya kambing dua, kalau lahir perempuan aqiqahnya kambing satu.
Setelah Mijil, tembangnya Kinanti. Anak-anak kecil itu, bekalilah dengan agama, dengan akhlak.
Tidak mau ngaji, pukul.
Masukkan ke TPQ, ke Raudlatul Athfal (RA).
Waktunya ngaji kok tidak mau ngaji, malah main layangan, potong saja benangnya.
Waktu ngaji kok malah mancing, potong saja kailnya.
Anak Kinanti ini waktunya sekolah dan ngaji.
Dibekali dengan agama, akhlak.
Kalau tidak, nanti keburu masuk tembang Sinom:
bakal menjadi anak muda (cah enom), sudah mulai ndablek, bandel.
Apalagi, setelah Sinom, tembangnya asmorodono , mulai jatuh cinta.
Tai kucing serasa coklat.
Tidak bisa di nasehati.
Setelah itu manusia disusul tembang Gambuh , laki-laki dan perempuan bakal membangun rumah tangga, rabi, menikah.
Setelah Gambuh, adalah tembang Dhandanggula.
Merasakan manis dan pahitnya kehidupan.
Setelah Dhandanggula , menurut Mbah Sunan Ampel, manusia mengalami tembang Dhurma.
Dhurma itu:
darma bakti hidupmu itu apa?
Kalau pohon mangga setelah berbuah bisa untuk makanan codot, kalau pisang berbuah bisa untuk makanan burung, lha buah-mu itu apa?
Tenagamu mana?
Hartamu mana?
Ilmumu mana yang didarmabaktikan untuk orang lain?
Khairunnas anfa’uhum linnas , sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk manusia lainnya.
Sebab, kalau sudah di Dhurma tapi tidak darma bakti, kesusul tembang Pangkur.
Anak manusia yang sudah memunggungi dunia:
gigi sudah copot, kaki sudah linu.
Ini harus sudah masuk masjid.
Kalau tidak segera masuk masjid kesusul tembang Megatruh : megat, memutus raga beserta sukmanya. Mati.
Terakhir sekali, tembangnya Pucung.
Lha ini, kalau Hindu reinkarnasi, kalau Islam Pucung .
Manusia di pocong.
Sluku-sluku Bathok, dimasukkan pintu kecil.
Makanya orang tua (dalam Jawa) dinamai buyut, maksudnya :
siap-siap mlebu lawang ciut (siap-siap masuk pintu kecil).
Adakah yang mengajar sebaik itu di dunia?
Kalau sudah masuk pintu kecil, ditanya Malaikat Munkar dan Nankir.
Akhirnya itu, yang satu reinkarnasi, yang satu buyut .
Ditanya: “Man rabbuka?” , dijawab: “Awwloh,”.
Ingin disaduk Malaikat Mungkar – Nakir apa karena tidak bisa mengucapkan Allah.
Ketika ingin disaduk, Malaikat Rakib buru-buru menghentikan: “Jangan disiksa, ini lidah Jawa”.
Tidak punya alif, ba, ta, punyanya ha, na, ca, ra, ka .
“Apa sudah mau ngaji?”
kata Mungkar – Nakir.
“Sudah, ini ada catatanya, NU juga ikut, namun belum bisa sudah meninggal”. “Yasudah, meninggalnya orang yang sedang belajar, mengaji, meninggal yang dimaafkan oleh Allah.”
Maka, seperti itu belajar. Kalau tidak mau belajar, ditanya,
“Man rabbuka?” ,
menjawab, “Ha……..???”.
langsung dipukul kepalanya: ”Plaakkk!!”.
Di- canggah lehernya oleh malaikat. Kemudian jadi wareng , takut melihat akhirat, masukkan ke neraka, di- udek oleh malaikat, di-gantung seperti siwur, iwir-iwir, dipukuli modal-madil seperti tarangan bodhol , ajur mumur seperti gedhebok bosok.
Maka, pangkat manusia, menurut Sunan Ampel:
anak – bapak – simbah – mbah buyut – canggah – wareng – udek-udek – gantung siwur – tarangan bodol – gedhebok bosok.
Lho, dipikir ini ajaran Hindu.
Kalau seperti ini ada yang bilang ajaran Hindu, kesini, saya tabok mulutnya!
Begitu tembang ini jadi, kata Mbah Bonang, masa nyanyian tidak ada musiknya.
Maka dibuatkanlah gamelan, yang bunyinya Slendro Pelok : nang ning nang nong, nang ning nang nong, ndang ndang, ndang ndang, gung . Nang ning nang nong: yo nang kene yo nang kono (ya disini ya disana); ya disini ngaji, ya disana mencuri kayu.
Lho, lha ini orang-orang kok.
Ya seperti disini ini: kelihatannya disini shalawatan, nanti pulang lihat pantat ya bilang: wow!.
Sudah hafal saya, melihat usia-usia kalian.
Ini kan kamu pas pakai baju putih. Kalau pas ganti, pakainya paling ya kaos Slank.
Nah, nang ning nang nong, hidup itu ya disini ya disana.
Kalau pingin akhiran baik, naik ke ndang ndang, ndang ndang, gung. Ndang balik ke Sanghyang Agung.
Fafirru illallaah , kembalilah kepada Allah.
Pelan-pelan.
Orang sini kadang tidak paham kalau itu buatan Sunan Bonang.
Maka, kemudian, oleh Kanjeng Sunan Kalijaga, dibuatkan tumpeng agar bisa makan.
Begitu makan kotor semua, dibasuh dengan tiga air bunga:
mawar, kenanga dan kanthil.
Maksudnya:
uripmu mawarno-warno, keno ngono keno ngene, ning atimu kudhu kanthil nang Gusti Allah
(Hidupmu berwarna-warni, boleh seperti ini seperti itu, tetapi hatimu harus tertaut kepada Allah).
Lho , ini piwulang-piwulangnya, belum diajarkan apa-apa.
Oleh Sunan Kalijaga, yang belum bisa mengaji, diajari Kidung Rumekso Ing Wengi.
Oleh Syekh Siti Jenar, yang belum sembahyang, diajari syahadat saja.
Ketika tanaman ini sudah ditanam, Sunan Ampel kemudian ingin tahu: tanamanku itu sudah tumbuh apa belum?
Maka di-cek dengan tembang Lir Ilir, tandurku iki wis sumilir durung?
Nek wis sumilir, wis ijo royo-royo, ayo menek blimbing.
Blimbing itu ayo shalat.
Blimbing itu sanopo lambang shalat.
Disini itu, apa-apa dengan lambang, dengan simbol: kolo-kolo teko , janur gunung.
Udan grimis panas-panas , caping gunung.
Blimbing itu bergigir lima.
Maka, cah angon, ayo menek blimbing .
Tidak cah angon ayo memanjat mangga.
Akhirnya ini praktek, shalat.
Tapi prakteknya beda.
Begitu di ajak shalat, kita beda. Disana, shalat 'imaadudin, lha shalat disini, tanamannya mleyor-mleyor, berayun-ayun.
Disana dipanggil jam setengah duabelas kumpul.
Kalau disini dipanggil jam segitu masih disawah, di kebun, angon bebek, masih nyuri kayu.
Maka manggilnya pukul setengah dua.
Adzanlah muadzin, orang yang adzan. Setelah ditunggu, tunggu, kok tidak datang-datang.
Padahal tugas Imam adalah menunggu makmum.
Ditunggu dengan memakai pujian.
*Rabbana ya rabbaana, rabbana dholamna angfusana* , –
sambil tolah-toleh, mana ini makmumnya –
*wainlam taghfirlana, wa tarhamna lanakunanna minal khasirin*.
Datang satu, dua, tapi malah merokok di depan masjid.
Tidak masuk.
Maka oleh Mbah Ampel:
Tombo Ati, iku ono limang perkoro….. .
Sampai pegal, ya mengobati hati sendiri saja.
Sampai sudah lima kali kok tidak datang-datang, maka kemudian ada pujian yang agak galak:
di urugi anjang-anjang……. , langsung deh, para ma'mum buruan masuk.
Itu tumbuhnya dari situ.
Kemudian, setelah itu shalat.
Shalatnya juga tidak sama.
Shalat disana, dipanah kakinya tidak terasa, disini beda.
Begitu Allahu Akbar , matanya bocor:
itu mukenanya berlubang, kupingnya bocor, ting-ting-ting, ada penjual bakso.
Hatinya bocor:
protes imamnya membaca surat kepanjangan.
Nah, ini ditambal oleh para wali, setelah shalat diajak dzikir, laailaahaillallah.
Hari ini, ada yang protes:
dzikir kok kepalanya gedek-gedek, geleng-geleng?
Padahal kalau sahabat kalau dzikir diam saja.
Lho, sahabat kan muridnya nabi.
Diam saja hatinya sudah ke Allah.
Lha orang sini, di ajak dzikir diam saja, ya malah tidur.
Bacaannya dilantunkan dengan keras, agar ma'mum tahu apa yang sedang dibaca imam.
Kemudian, dikenalkanlah nabi.
Orang sini tidak kenal nabi, karena nabi ada jauh disana.
Kenalnya Gatot Kaca.
Maka pelan-pelan dikenalkan nabi.
Orang Jawa yang tak bisa bahasa Arab, dikenalkan dengan syair:
kanjeng Nabi Muhammad, lahir ono ing Mekkah, dinone senen, rolas mulud tahun gajah.
Inilah cara ulama-ulama dulu kala mengajarkan Islam, agar masyarakat disini kenal dan paham ajaran nabi.
Ini karena nabi milik orang banyak (tidak hanya bangsa Arab saja).
*Wamaa arsalnaaka illa rahmatal lil ‘aalamiin* ;
Aku (Allah) tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali untuk menjadi rahmat bagi alam semesta.
Maka, shalawat itu dikenalkan dengan cara berbeda-beda.
Ada yang sukanya shalawat ala Habib Syekh, Habib Luthfi, dll.
Jadi jangan heran kalau shalawat itu bermacam-macam.
Ini beda dengan wayang yang hanya dimiliki orang Jawa.
*bersambung bagian-2*....

Qiraah sab'ah basmalah


5 rumus bismilah dalam membaca bamalah dalam qiroah sab'ah
Bismilah bisa dibaca:

1. A-A
2. I-I
3. U-U
4. U-A
5. I-U.
6. U- A
7. A-U