Sabtu, 21 Januari 2017

Kecelik

*K E C E L I K*

KH. Saerozi bercerita soal tiga orang yang *_kecelik_*.

_Kecelik_ adalah istilah Jawa yang digunakan utk mengungkapkan sesuatu yang sangat diharapkan, akan tetapi hasilnya mengecewakan.

*1. KECELIK YG PERTAMA*

*_Orang yang ingin mulia dengan ngetok-ngetokno keapikane ... iku kecelik_*.
"Sebab keapikan iku lek diketokno ora nggarai apik. Justru nggarai élék,’’ tuturnya. Sebaliknya, keapikan kalau ditutupi, akan semakin kelihatan baik.

’’Sampean kenalan karo wong. Sampean takoni jenenge sopo? Kok deweke jawab, *_Kulo almukarrom kiai haji Sholeh_* ... Yo malah diguyu. Kok ora ditambahi almarhum pisan,’’ ucapnya disambut tawa jamaah.

_Pelok_, isi buah mangga,... jika ditanam di tanah dalam-dalam, justru akan menumbuhkan pohon dan buah. ’’
Coba pelok iku delehen nduwur mejo. Yo sido garing,’’ tambahnya.

’’Makanya ada maqolah, *_Kun ardlon fî qodaminnâs_* ... Jadilah kamu bumi bagi kaki-kaki manusia,’’ tuturnya. ’
*"Bumi itu di bawah. _Yo diinjak-injak. Yo diidoni_ ...Tapi regane tambah suwi tambah larang. Padahal bumine ora lapo-lapo",* ucapnya kembali disambut ger-geran jamaah.

Makanya jika ngelakoni apik, sebaiknya disembunyikan atau ditutupi.
*_Attawâdlu’u lâ tazîdu illâ rif’ah_* (Wong tawadlu' akan semakin mulia).
’’Orang yang berbuat baik dengan diketok-ketokno iku biasane gak eroh (tidak tahu)  dalane berbuat apik. Utowo gak biasa ngelakoni apik,’’ jelasnya.

*2. KECELIK YG KEDUA*

*_Orang yang ingin kaya dengan enggan bersedekah. Bayangane duwek akeh iku lek disimpen ... iku kecelik._*
Duwek akeh iku lek disedekahno. *_Asshodaqotu lâ tazîdu illâ katsrotan_*.

Setiap malam malaikat turun mendoakan orang-orang yang sedekah, *"Ya Allah, gantilah yang lebih banyak kepada orang-orang yang sedekah*".

’’Saya kemarin di Kediri ketemu konco yang setiap tahun gurune diberi motor. Saya tanya  kok iso ngono?’’ kata Kiai Saerozi.

Salah satu pengurus cerita, awalnya dia hanya memberi satu motor. Lha kok rezekine tambah akeh tambah akeh. Akhire motor yang diberikan terus bertambah. ’’Kemarin yang dibagikan sudah 11 motor,’’ bebernya.

*Uang sesungguhnya adalah pembantu.* ’’Kalau disedekahkan, uang itu hidup. Golekno pahala sing sedekah,’’ jelasnya. Misalnya uang itu dipakai mbayari guru ngaji. Maka orang yang sedekah dapat pahala ngajar ngaji tanpa susah payah ngajar ngaji.

Sebaliknya, kalau hanya disimpan, *uang itu turu*.
"Sampean seneng endi duwe pembantu turu karo pembantu sing kerjo?’’ ucap Kiai Saerozi.

*Orang yang medit (uangnya disimpan), sebenarnya loman.* Sebab harta yang disimpannya, ketika meninggal, *_seluruhnya akan dinikmati pewarisnya_*, kata Kiai Saerozi.
Sebaliknya, orang yang suka *sedekah*, sebenarnya *pelit*. *_Karena semua yang disedekahkan, kelak akan ia nikmati sendiri di akhirat._*

*3. KECELIK YG KETIGA*

*_Orang mengira bahwa jagoan adalah yang bisa mengalahkan semua musuh ... iku kecelik._*
Sebab musuh sing dikalahno, duwe bolo, duwe konco, duwe keluarga.
*"Masio kalah, koncone, bolone, keluargane pasti balas dendam. Musuhe tambah akeh"* , tuturnya.

Menang yang sejati, kata Kiai Saerozi, adalah *dengan memaafkan*.

*_Al 'afwu lâ tazîdu illâ 'izzan_*. (Memaafkan akan menambah kemenangan).

*’’Musuh disepuro dadi bolo, dulur ora disepuro dadi musuh"*, tegasnya.
Misalnya musuhan dengan tetangga kanan rumah. Ora gelem nyepuro, maka lewat depan rumahnya pasti segan. Musuhan dengan tetangga kiri rumah. Ora mau nyepuro, lewat di depannya pasti juga segan. ’’Akhire ngiri buntu, nganan yo buntu. Padahal asline ora buntu. Sing mbuntu atine dewe,’’ jelasnya.

Kalau punya musuh, mau ngapain juga pasti susah. ’’Mau masuk musholla kok di dalamnya ada musuhe. Pasti tidak mau masuk. Ora dikipatno ngipat-ngipat dewe", ucapnya disambut ger-geran jamaah.

’’Mau naik angkot kok di dalam ada musuhe. Pasti ora sido naik,’’ tambahnya.

Makanya yang paling baik adalah memaafkan.
*"Jagoan sejati iku nyepuroan (pemaaf)"*
_"Ngeluruk tanpo bolo, menang tanpo ngasorake"._

Agar antar anak tidak ada permusuhan, orang tua diminta tidak mbedak-mbedakno, iki anak emas ... ini anak bukan emas.
*_Tidak boleh membanding-bandingkan kelebihan anak di hadapan anak yang lain. Sebab kalau sudah tali silaturrahim putus, maka tali hubungan dengan Allah juga putus._*
_"Kajio bendino (kasarane) kalau hubungan dengan sanak keluarga ora apik, percuma",_ tegasnya. 

🙏

Selasa, 10 Januari 2017

IJAZAH DARI KH. SYA'RONI AHMADI KUDUS (Hafizhohullah

)

1. Doa ketenangan hati
Dibaca 10 kali sesudah sholat fardhu

اللهم نور قلبي بنور هدايتك كما نورت الأرض بنور شمسك أبدا أبدا

Allahumma nawwir qolbii binuuri hidaayatika kamaa nawwarta al-ardho binuuri syamsika abadan abadaa.

2. Doa agar diberi rizki yang luas
Dibaca pagi 9 kali dan sore 9 kali

الله لطيف بعباده يرزق من يشاء وهو القوي العزيز

Allahu lathiifun bi 'Ibaadihii yarzuqu man yasyaa-u wa huwa al-qowiyyu al-aziiz

3. Doa kerukunan keluarga
Dibaca 10 kali pagi dan sore

ربنا هب لنا من أزواجنا وذرياتنا قرة أعين واجعلنا للمتقين إماما

Robbanaa hab lanaa min azwaajinaa wa dzurriyyaatinaa qurrota a'yunin waj'alnaa lil muttaqiina imaamaa

4. Doa dibaca waktu ada kesulitan

يا لطيف 129x

Yaa Lathiif (129 kali).

5. Doa dibaca untuk menghasilkan hajat
Dibaca 99 kali

اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه صلاة تعدل صلوات المصلين عليه

Allahumma sholli 'alaa sayyidinaa Muhammadin wa 'alaa aalihi wa shohbihii sholaatan ta'dilu sholawaatil musholliina 'alaih.

Sabtu, 07 Januari 2017

واو ثمانية

🌹لمتذوِّقي اللغة العربية 🌹

سؤال :
لماذا في سورة الزمر جاء قول الله تعالى في حق الكفار بصيغة (حتى اذا جاءوها فتحت أبوابها ) بدون واو،

وفي حق المؤمنيين جاءت بواو، قال تعالى (حتى إذا جاءوها وفتحت أبوابها)  ؟!

انظر جمال اللغة العربية                                                                     

*ْواو الثمانية*❗                                                                    

كم في كتاب الله من لمحات بلاغية أبهرت الباحثين والمشتغلين بالفصحى وآدابها.. ؟!!
ومن هذا ما أطلق عليه "واو الثمانية"

وهذه وقفة بيانية جميلة مع:
!!واو الثمانية
_____________

سميت واو الثمانية بهذا الاسم لأنها تأتي بعد ذكر سبعة أشياء مذكورة على نسق واحد من غير عطف ثم يؤتى بالثامن مقرونا بالواو ..

تقول: محمد عالم ،  فاهم ، راسخ ، تقي ، نقي  ، زكي  ، ورع  ،  وزاهد..
وهو أسلوب عربي ..
ومن أمثلته في القرآن الكريم قوله تعالى :

"التائبون العابدون الحامدون السائحون الراكعون الساجدون الآمرون بالمعروف والناهون عن المنكر .."
فقد ذكر سبعة أوصاف ، ثم ذكر الثامن بالواو ..

ومنه قوله تعالى : " عسى ربه إن طلقكن أن يبدله أزواجا خيرا منكن مسلمات مؤمنات قانتات تائبات عابدات سائحات ثيبات وأبكارا"                                                    

وملاحظة أخرى:
اقتران الواو بلفظ (ثمانية) دون غيرها
مثل قوله تعالى:
"سيقولون ثلاثة رابعهم كلبهم ويقولون خمسة سادسهم كلبهم رجما بالغيب ويقولون سبعة وثامنهم كلبهم "
لم يعطف بالواو في "رابعهم" ولا في "سادسهم" بل عطف بها في "ثامنهم"'!!!..

ومن ذلك قوله تعالى:
" سخرها عليهم سبع ليال وثمانية أيام "

وأعجب من ذلك ما جاء في قوله تعالى:
" حتى إذا جاءوها فتحت أبوابها " في بيان حال الكفار في دخول النار..
بينما قال تعالى عن دخول أبواب الجنة
"حتى إذا جاءوها وفتحت أبوابها "
لاحظ إضافة حرف الواو هنا❗
فالأولى لم تقترن بالواو ومعلوم ان ابواب النار سبعة
أما في الثانية اقترنت بالواو لأن أبواب الجنة ثمانية  .
طاب يومكم بذكر الله والصلاة والسلام على رسوله الكريم ..

* سبحان الله

Selasa, 20 Desember 2016

Ibn hazm

sudah rapuh. Jika demikian, bukan mustahil akan terjadi perceraian.4
Hal ini
sudah diatur dalam al-Qur’an mengenai jalan terbaik bagi suami istri. Bagi
istri boleh meminta cerai atau membatalkan perkawinan dan tidak berdosa,
bila permintaan itu ada alasan yang jelas dan sah. Dalam surat al-Baqarah
ayat 229 menyatakan sebagai berikut:
ُودُXُl َmْfِ] ِZِO ْتَXَoْWا aَq_ِW aَqِrْ_َfَs َحaَdُu َvَW ِwاَ ودُXُl aَq_ِxُy z{َأْ Sُoْ|ِI ْنَ{ِW
:ةfx„Qاَ. (نُ~qِQazeQاُ Sُهَ mِ€َ{ْوَ\ُW ِwاَ ودُXُl zXَNَoَy �َDَو aَوهُXَoْNَ] َvَW ِwا
( ٢٢٩
Artinya: “Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami istri) tidak dapat
menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas
keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk
menebusnya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu
melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah,
mereka itulah orang-orang yang zhâlim”. (Q.S. al-Baqarah: 229)5
Kemudian dalam problema pernikahan yang terdapat cacat itu tidak
bisa memenuhi tujuan pernikahan dari penyakit yang menghambat hubungan
biologis, tapi jika mereka (suami istri) sama-sama rela dan mengetahui hal
tersebut tidaklah menjadi permasalahan. Akan tetapi mereka sebenarnya boleh
pada awalnya memilih untuk menikah atau tidak menikah. Suatu problema ini
sudah diatur secara luas dalam Islam tentang adanya cacat dalam pernikahan.
Selanjutnya mengenai pembatalan nikah, Imam Mâlik dan Syâfi’î
sependapat bahwa penolakan dapat terjadi karena empat macam penyakit
(cacat), yaitu: gila, lepra, kusta, dan penyakit kelamin yang menghalangi
jima’, adakalanya tumbuh tulang bagi orang perempuan, impoten atau

4
Anshari Thayib, Struktur Rumah Tangga (Surabaya: Risalah Gusti, 1991), 111.
5
Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, 36.

terpotong penisnya (kebiri) bagi orang laki-laki. Sementara Imam Abû
Hanifah bersama para pengikutnya dan ats-Tsauri berpendapat, bahwa seorang
perempuan tidak dapat di thalâq kecuali karena dua cacat saja, yaitu tumbuh
tulang dan tumbuh daging.6
Dalam cacat impoten menurut Syâfi’î, Hambali, dan Hanafi
mengatakan bahwa apabila suami tidak mampu melaksanakan tugas
seksualnya, maka istri berhak memilih untuk berpisah (bercerai), sungguh pun
suaminya itu mampu melakukan dengan wanita lain.7
Adapun gila menurut
Mâliki, Syâfi’î, dan Hambali sepakat bahwa suami boleh membatalkan akad
nikah karena penyakit yang diderita istrinya, demikian pula sebaliknya.8
Dapat juga diketahui bahwa cacat baik datangnya pada suami maupun istri
dapat dibatalkan dan memerlukan campur tangan hakim seperti mandul dan
mengidap penyakit menular (sipilis dan TBC).9
Kemudian pendapat jumhûr ulama’ dari segala madzhab mengenai
perkawinan dapat dibatalkan karena adanya cacat terutama sekali Imam Abû
Hanifah, Mâlik, Ahmad.10 Mereka beralasan pada hadits:
ُZَQ ْ�َ[aَآُ Zz[َاَfَ آَذِ رaَ�ْ[َ‘ْاِ�َ D ٌ“ْ_َ” ْ•ِdَ–zXَl : َلaَY ٍXْyَزْ�ِ O ِŒْ_ِqَu ْ�َs
Pzfَ™ ِwاَ لَ›ُ~ْر zنَأْSٍ, Nَآْ�ُ O ُXْyَزْ وَاٍ Xْyَزْ�ُ O ُšْNَآُ : ZَQ ُلaَxُy ٌ—َ„ْ˜ُ™
َžَŸَ~َW aَrْ_َfَs َŒَIَد azqَfَW ,ٍرaَ|ِg ْ•ِdَO ْ�ِD ًةَأْfَDِإَ جzوَ [َ�َSzfَ›َوِ Zْ_َfَs ُwا

6
Ibnu Rusyd, Bidâyatu al-Mujtahid, terj. Abdurrahman dan Haris Abdullah, vol. 2
(Semarang: Asy-Syifa’, 1990), 455.
7
Muhammad Jawwad Mughniah, Fiqh Lima Madzhab: Ja’fari, Hanafi, Mâliki, Syâfi’î,
Hambali, terj. Maskur AB, dkk., vol. 4 (Jakarta: Lentera, 1999), 352.
8
Ibid., 355.
9
Abdul Aziz Dahlan, Ensiklopedi Hukum Islam, Jilid. 2 (Jakarta: Ichtiar Baru Van
Hoeve, 1996), 318.
10 Al-Hamdani, Risalah Nikah, terj. H. Agus Salim (Jakarta: Pustaka Amani, 2002), 275.

zSُ– ِاشْ|ِfَQاَ�ِ s َزaَ˜ْ[aَW aًŸaَ_َO aَrِ˜ْ¢َUِO َƒَ�ْOَأِ اشْ|َfَQا Pَfَs َXَNَYَوُ ZَOْ~َ–
(Xqlأ¦ روا. (aً¤ْ_َ” aَهaَ]َأ azqِD ْHُIْ\َy ْSَQَوِ mَOaَ_ِ– ِmْ_َfَs ْيِHُI :َلaَY 11
Artinya: “Dari jamil bin Zaid, ia berkata: Ada orang tua dari anshar
bercerita kepadaku dimana ia menyebut dirinya sebagai sahabat
Nabi, orang itu biasa dipanggil ka’ab bin zaid, bahwa
sesungguhnya Rasulullah SAW pernah mengawini seorang
perempuan Bani Ghifâr, kemudian setelah ia masuk (dikamarnya),
lalu meletakkan pakaiannya dan duduk diatas tempat tidur,beliau
melihat diatas pangkal pahanya ada putih-putih, kemudian beliau
bangkit dari tempat duduk lalu bersabda, “Berpakailah kembali”
sedangkan beliau tidak meminta kembali apa (mahar) yang telah
diberikan kepadanya sedikitpun (H.R. Ahmad)12
Pendapat jumhur ulama’ ini memandang tujuan dan kehidupan
perkawinan harus didasarkan pada ketenangan dan cinta kasih yang tidak
mungkin timbul apabila salah satu pihak cacat atau berpenyakit yang
membuat pihak lain tidak mau menderitanya.13
Para ulama berbeda pendapat mengenai pembatalan nikah dikarenakan
adanya cacat. Ibn Hazm sebagai pengembang madzhab Zhâhirî berpendapat
bahwa perkawinan yang sudah sah selamanya tidak dapat dibatalkan karena
cacat, apapun cacatnya dan tetap wajib bagi suami memberikan nafkah serta
yang lain kepada istrinya.14 Dalam madzhab Zhâhirîyah seperti Dawud bin Ali
al-Asfihani dan Ibn Hazm serta didukung pula Sayyid Shiddiq Khan
pengarang kitab Raudhatun Nadiyyah berkata: “Bahwa syara’ menetapkan

11 Muhammad bin ‘Alî bin Muhammad as-Saukanî, Nailul Authar, vol. 4 (Beirut: Dâr al-
Fikr, tt), 298.
12 A. Qadir Hasan, et.all., Terjemahan Nailul Authar, vol. V (Surabaya: Bina Ilmu, 1984),
2212.
13 Al-Hamdani, Risalah Nikah, 276.
14 Ibn Hazm, al-Muhallâ, vol. 10 (Beirut: Dâr al-Fikr, t.t.), 109.

perkawinan itu hanya lepas dengan thalâq atau karena meninggal
(kematian)”.15
Penyakit yang apa saja walaupun ada dalil yang mengatakan bisa
menjadi batalnya ikatan perkawinan, itu tidak jelas. Dan Ibn Hazm mengambil
dasar dari hadîts:
( ريa¨„Qا¦ رواِ. (mِfْهِ\َO ْ•ِxَ˜ْQِا...
Artinya: “…kembalilah ke keluargamu”.
Dari hadîts di atas merupakan ucapan thalâq.
16 Lafadz hadîts diatas
menurut Ibn Hazm merupakan bentuk kinâyah17 dari thalâq yang diucapkan
suami kepada istrinya. Begitu juga pembatalan nikah sebab cacat, seperti
impoten tidak ada dalilnya yang shahih. Oleh karena itu, perkawinannya tetap
berlangsung sampai ada sebab yang mewajibkan perceraian, dan paling
mengherankan lagi ialah pengkhususan cacat-cacat tertentu.18
Ibn Hazm tidak setuju bahwa cacat bisa mengakibatkan pembatalan
perkawinan, karena ikatan perkawinan harus berjalan sampai ada yang
menyebabkan perpisahan oleh suami istri selain cacat. Oleh karena itu,
perkawinan mempunyai prinsip sesuai dengan yang diperintahkan Allah
dalam surat al-Baqarah ayat 229:19

15 Al-Hamdani, Risalah Nikah, 274-275.
16 Ibid., 275.
17 ِ—َ_ªdQا PَQِاِfُ xَoْ|َyَوَ_ْfَ¦ُ gَوَ قَvz¬QاَOEَ qَoْlاَ|ْ­ٍ Q ®Œُآَ—ُ yaَdِUQْاَو ,maksudnya adalah setiap
lafadz yang mengandung pengertian thalâq dan lainnya dan ia memerlukan niat. Lihat Imam
Taqiyu al-Dîn Abî Bakar Ibn Muhammad al-Husaini, Kifâyah al-Akhyâr, vol. 2 (Surabaya: tp, tt),
80.
18 Al-Hamdani, Risalah Nikah, 275.
19 Ibn Hazm, al-Muhallâ, vol. 10, 115.

ٍنaَ±ْlِ}ِO ٌ²yِƒْ±َ] ْوَأٍ وفْfُNَqِO ٌكaَ±ْDِ}َW
Artinya: “Boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan
dengan cara yang baik”.20
Dari ayat diatas, mengindikasikan bahwa perkawinan tidak boleh
dibatalkan dengan sebab cacat, Sehingga cacat bukanlah jalan untuk
memisahkan hubungan perkawinan suami istri. Jadi perpisahan bukanlah
sebab cacat, melainkan sebab lain, sehingga menurut Ibn Hazm tidak ada
dalil shahih untuk membatalkan hubungan pernikahan.
Dalam berbagai pendapat tentang pembatalan nikah dari kalangan
jumhûr ulama dan Ibn Hazm yang berbeda, karena perbedaan di kalangan
ulama ini selain dipengaruhi oleh situasi dan kondisi dimana ulama tersebut
hidup, juga disebabkan karena adanya perbedaan menggunakan dalil-dalil dan
cara berijtihad diantara mereka, sehingga perbedaan dalam berijtihad
mengakibatkan berbeda dalam fiqh sebagai hasil ijtihad.21
Berangkat dari latar belakang di atas, penulis mencoba untuk
membahas lebih mendalam pemikiran Ibn Hazm dalam hal fasakh nikah, dan
akan penulis sajikan dalam bentuk skripsi dengan judul “PEMBATALAN
NIKAH DENGAN SEBAB CACAT (Studi Pemikiran Ibn Hazm dalam kitab
al-Muhallâ)”.

20 DEPAG RI, al-Qur’an Terjemahan, 36.
21 A. Djazuli, Ilmu Fiqh: Sebuah Pengantar (Bandung: Orta Sakti, 1992), 102.

Senin, 12 Desember 2016

Legislasi

Hak mengajukan rancangan undang2

Populis
Undang2 yg dibutuhkan masyarakat umum

Hak uji material
Hak yg dimiliki oleh subjec hukum untuk menguji apakah pasal2 dalam peraturan itu bertentangan dengan atasnya atau tidak

Asas retroaktif
Diberlakukanya (pembuatan ya) setelah pelanggaran di lakukan

Asas legalitas

Pelanggaran terjadi karena ia melanggar hukum yg telah dilakukan

istilah (gugatan) rekonvensi
diatur dalam Pasal 132a HIR yang maknanya rekonvensi adalah gugatan yang diajukan tergugat sebagai gugatan balasan terhadap gugatan yang diajukan penggugat kepadanya.

BANDING
Upaya hukum Banding diatur dalam Bab XVII KUHAP.
Banding adalah upaya hukum dari pihak yang merasa tidak puas dengan putusan Pengadilan tingkat pertama dan dapat diajukan dalam tenggang waktu 14 hari sejak tanggal putusan itu diberitahukan kepada para pihak dan diajukan kepada Pengadilan Tinggi (Pengadilan tingkat banding) melalui Pengadilan tingkat pertama yang memutuskan perkara tersebut.

verzet secara istilah adalah upaya hukum terhadap putusan yang dijatuhkan diluar hadirnya tergugat. Ketentuan undang-undang yang mengatur tentang hal tersebut dijelaskan dalam pasal 125 ayat (3) jo Pasal 129 HIR, Pasal 149 ayat (3) jo Pasal 153 Rbg.[2]

Jumat, 02 Desember 2016

DAHSYATNYA ENERGI AL-MAIDAH:51

oleh : ahmad musta'in syafi'ie

Sekian lama *kiai toleransi* sengaja "menyembunyikan-mu", wahai al-Maidah:51. Ternyata Pemilikmu tersinggung. Lalu, dengan cara-Nya sendiri Dia bertindak. Cukup lidah Ahok diplesetkan dan NKRI tersentak menggelegar, menggelepar. Kita petik hikmahnya :

1. Aksi 411 and 212 adlh bukti bhw Allah SWT itu ada dan kehendak-Nya tdk bisa dibendung oleh siapapun. Pemerintah terpaksa harus mengalah, padahal sblumnya Jokowi sdh pamer militer. Kini aksi diarahkan menjadi doa. Ternyata malah punya daya tarik yg luar biasa. Sluruh negeri menyambut dg nama berbeda, aksi Nusantara Bersatu, istighatsah militer dll. 

Negara juga trpaksa mengeluarkan dana sangat besar utk menfasilitasi aksi 212. Aparat di jalanan terpaksa harus menyesuaikan diri dg menggunakan simbol-simbol islam. Polisi pakai surban putih, membuat tim khusus bernama ASMAUL HUSNA, polwan serentak berjilbab, Habib papan atas memimpin istighatsah pakai ikat merah-putih melilit kepala. Lucu (?). Mungkin Tuhan sdng menjewer telinga kita, agar slalu "putih" dlm mengemban amanat.

2. Mestinya penguasa dan para cukong sadar, bhw negeri ini lebih didirikan oleh teriak "Allah Akbar" ketimbang "Haleluya". Umat islam yg selama ini diam, kini sbgian kecil berani menunjukkan jati dirinya secara alamiah dan sangat militan. Inilah yg disebut "silent majority". Maka jangan coba-coba mengusik "air tenang" jika tidak ingin hanyut.

3. Aksi ini sungguh peringatan, bahwa : tasamuh, tawazun, tawassut yg dislogankan NU itu perlu ditinjau kembali. *Bukan pada konsepnya, tapi praktiknya.* Di samping ada batasan, wajib ada pengawalan yg tegas dan bijak. Sadarlah, betapa kaum Nahdliyin diam-diam mengapresiasi aksi ini secara suka rela. Artinya, mereka sdh mulai tdk sudi dan meninggalkan gaya PBNU yg tdk jelas. Sok toleransi, tapi tak ada aksi. Berdalih" RAHMATAN LIL 'ALAMIN" tapi sejatinya "ADL'AFUL IMAN".

Dialah Rasulullah SAW, saat pribadinya disakiti, dia memaafkan. Jika agama dinista, beliau marah besar. Bbrpa suku dan pribadi dikutuk dan dilaknat. Mukmin beneran itu tegas-keras kepada kafir, berkasih sayang sesama mukmin, " *asyidda' 'ala al-kuffar, ruhama' bainahum"* (Al-Fath:29). Tapi sebagian oknum PBNU, kiai toleransi, kiai seni sekarang cenderung sebaliknya, "asyidda' 'ala al-mukminin, ruhama' bain al-kuffar". (?)

4. Gus Mus yg membid'ahkan shalat jum'ah di jalan raya dan kiai Sa'id yg menghukumi tdk sah skrang diam soal shalat jum'ah di Silang Monas. Wonten punopo kiai?. Begitulah bila fatwa beraroma dan tendensius, hanya melihat illat hukum secara pendek dan sesaat. Terlalu naif menggunakan ikhtilaf fiqih utk kepentingan politik.

Benar, jika itu mengganggu lalu lintas. Tapi hanya sebentar dan hanya pengguna jalan yg ketepatan lewat. Stelahnya, ada maslahah sangat besar bagi umat islam pd umumnya. Maslahah inilah yg tdk beliau lihat. Lagian, tradisi kita sdh biasa menutup jalan utk majlis dzikir, istighatsah, trmasuk haul Gus Dur di pesantren Tebuireng.

Gus Mus pernah mencak-mencak saat amaliah kaum Nahdliyin dibid'ahkan, tapi sekarang ganti membid'ahkan sesama muslim, "bid'ah besar". Ternyata, amunisi bid'ah yg ditembakkan Gus Mus ini lbh besar dibanding bid'ah yg ditembakkan non-nahdliyin.

Skedar mmbaca sejarah, bhw zaman Umar ibn al-Khattab, tentara islam shalat jum'ah di jalan sblum menaklukkan negeri futuhat. Sultan Muhammad al-Fatih shalat jum'ah di sepanjang pantai Marmara sebelum menjebol benteng Konstatinopel. Inilah awal khilafah Utsmniyah berdiri. Sekali lagi, orang 'alim mesti melihat sisi maslahah jauh ke depan ketimbang illat "bid'ah" sesaat.

Mengagumkan, fatwa dan puisi Gus Mus begitu manusiawi, tawadlu', filosufis dan sufistik sehingga mengesankan derajat beliau telah mencapai hakekat keagamaan. Tiba-tiba tega merendahkan ilmu kiai-kiai MUI dengan mengatakan ilmu Syafi'i Ma'arif lebih tinggi. Sungguh membuat penulis tercengang. Ya. karena pernah kuliah di Jogya dan sedikit tahu.

Merendahkan ilmu kiai-kiai MUI sama saja dg merendahkan ilmu ketua Syuriah NU, KH. Ma'ruf Amin. Begitu cerdiknya Gus Mus, "sekali dayung dua kepala kena pentung". Penulis membatin, " kok bisa, sekelas ketua Syuriah NU tega merendahkan sesama ketua Syuriah. Ini fenomena apa?". Hadana Allah. Terpujilah kiai Makruf tdk meladeni. Meski demikian, akan lebih elegan bila kiai Ma'ruf Amin tdk merangkap jabatan. Mohon maaf kiai.