M. Hendri Agustiawan, SH, SA

Kamis, 18 Januari 2018

Sholat di masjid yang terdapat kuburan


Assalamualaikum ust
Ust boleh nanya hukum sholat di masjid yg disitu ada makamnya?🙏
Syukron jazilan ust

*Jawab :*

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته..

Sebagian orang mungkin akan melarang shalat di Masjid yang terdapat kuburan/makam, karena ada hadits :

لعن الله اليهود والنصارى اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد

"Allaah Ta'ala melaknat Yahudi dan Nasrani karena telah menjadikan kuburan nabi nabi mereka sebagai tempat ibadah". (Muttafaq 'alayh)

Atau juga dengan hadits, dari Abu Martsad Al Ghanawi, ia berkata : Rasulullah bersabda,

لا تصلوا إلى القبور ولا تجلسوا عليها

"Janganlah kalian shalat ke arah kubur dan janganlah kamu duduk di atas kubur." (HR. Muslim)

Kedua hadits tersebut shahih, namun pemahaman atas hadits tersebut mesti dikembalikan kepada ulama.

Sebagian ulama memahami bahwa shalat di masjid yang terdapat kuburan di dalamnya -biasanya kuburan orang shalih- adalah perkara yang mubah dan tidak membatalkan shalat.

Setidaknya hujjah mereka antara lain :

(1). Dalam bahasa Arab, kata masaajid merupakan jama' dari kata masjid. Dan kata masjid dalam bahasa Arab merupakan mashdar mimi yang bisa menunjukkan arti waktu, tempat atau tindakan. Sehingga, makna menjadikan kuburan sebagai masaajid adalah bersujud ke arahnya untuk mengagungkan dan menyembahnya. Sebagaimana perbuatan orang orang musyrik. Penafsiran ini sebagaimana dijelaskan dalam riwayat shahih yang lain dari hadits ini dalam kitab Thabaqat Al Kubra karya Ibn Sa'ad. Diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Nabi shallallaahu 'alayhi wasallam bahwa beliau bersabda :

اللهم لا تجعل قبري وثنا، لعن الله قوما اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد

"Ya Allaah, Janganlah engkau jadikan kuburanku sebagai berhala. Allaah melaknat suatu kaum yang menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai Masjid". *(HR. Ahmad No. 7358)*

Maka kalimat, "Janganlah engkau jadikan kuburanku sebagai berhala.." adalah penjelas bagi kalimat : .."menjadikan kuburan sebagai masaajid". Saat kuburan menjadi berhala, itulah makna menjadikan kuburan sebagai masjid.

(2). Pendapat Imam Al Baidhowi bahwa yang dimaksud "kuburan menjadi masjid" ialah yang benar benar bersujud kepada kuburan.

Syaikhul Islam Ibn Hajar Al Asqalani mengutip qaul Al Baidhawi :

لما كانت اليهود والنصارى يسجدون لقبور الأنبياء تعظيما لشأنهم ويجعلونها قبلة يتوجهون في الصلاة نحوها واتخذوها أوثانا لعنهم ومنع المسلمين عن مثل ذلك فأما من اتخذ مسجدا في جوار صالح وقصد التبرك بالقرب منه لا التعظيم ولا التوجه نحوه فلا يدخل في ذلك الوعيد

"Ketika orang orang Yahudi dan Nasrani sujud ke kubur para Nabi mereka karena mengagungkan mereka dan menjadikan kubur kubur itu sebagai arah kiblat, mereka beribadah menghadap ke kubur kubur itu dalam rangka ibadah dan sejenisnya. Mereka jadikan kubur kubur itu sebagai berhala, maka Rasulullaah shallallaahu 'alayhi wasallam melaknat mereka dan melarang kaum muslimin untuk melakukan seperti itu. Adapun orang yang membuat masjid di samping makam orang shalih untuk keberkahan, bukan untuk pengagungan, bukan sebagai arah ibadah dan sejenisnya, maka tidak mengapa." *(Fathul Baari Syarh Shahih Bukhari, 1/525).*

(3). Terdapat hadits Abu Bashir radhiyallaahu 'anhu, yang diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dari Ma'mar, dan Ibnu Ishaq dalam kitab As-Sirah An-Nabawiyyah; serta Musa Ibn Uqbah dalam kitab Maghazi. Ketiga ulama ini meriwayatkan dari Az-Zuhri, dari Urwah Ibn Az-Zubair, dari Miswar bin Makhramah dan Marwan Ibnul Hakam radhiyallaahu 'anhu. bahwa Abu Jandal ibn Suhail ibn Amr menguburkan jenazah Abu Bashir ra. Lalu membangun sebuah Mesjid di atas kuburannya yang terletak di Siful Bahr. Kejadian itu diketahui setidaknya oleh tiga ratus sahabat Nabi. Tidak ada riwayat bahwa sahabat mengeluarkan kuburan itu atau membongkarnya dari mesjid.

Terdapat pula hadits :

في مسجد الخيف قبر سبعين نبيا

"Dalam masjid Khaif(masjid yang berada di daerah Mina) terdapa t kuburan 70 sahabat". *(HR. Thabrani No. 13525)*.

Dalam peristiwa itu Nabi shallallaahu 'alayhi wasallam tidak memerintahkan untuk mengeluarkan kuburan, tapi membiarkan bgitu saja.

(4). Fakta bahwa kuburan Nabi shallallaahu 'alayhi wasallam pun melekat dengan masjid Nabawi di Madinah.

Abu Bakar As-Shiddiq berkata,

سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : "ما دفن نبي قط إلا في مكانه الذي توفي فيه".

"Aku mendengar Rasulullaah shallallaahu 'alayhi wasallam bersabda : Tidaklah seorang Nabi disemayamkan melainkan di tempatnya meninggal dunia". *(HR. Malik No. 27)*

Dan beliau shallallaahu 'alayhi wasallam wafat di dalam kamarnya.

Hal ini didukung juga dengan pengakuan tujuh ahli fikih Madinah (fuqoha sab'ah) yang menyetujui untuk dimasukkannya rumah Sayyidah Aisyah ke dalam masjid Nabawi pada tahun 88 H.

Dari pembahasan di atas jelaslah bahwa shalat di masjid yang ada kuburan di dalamnya tidak terlarang. Apalagi terdapat dinding dan jarak antara kubur dengan masjid. Yang terlarang adalah menjadikan kubur sebagai masjid, dan shalat menghadap kubur, karena mengandung syirik mempersekutukan Allaah.

Wallaahu a'lam.

💎 Pengasuh Tanya Jawab : Ust. Rivaldy Abdullah

Ngaji FIQH
https://telegram.me/ngajifiqh

Minggu, 07 Januari 2018

KANTONG BOCOR

*اَلسَّــلاَمُ عَـلَـيْـكُمْ وَرَحْـمَـةُ اللَّهِ وَبَـرَكَاتُـهُ*

KANTONG BOCOR

Imam mesjidil haram almakki dalam khutbahnya mengatakan:

إحذروا الكيس المثقوب

Hati-hati dengan kantong yg bocor

" تتوضأ أحسن وضوء " لكــن. .. تسرف في الماء' كيس مثقْوب

Engkau telah berwudhu dgn sebaik-baik wudhu akan tetapi engkau boros memakai air, (itu sama dengan)
kantong bocor

" تتصدق عَلى الفقراء بمبلغ ثم .. تذلهم وتضايقهم *كيس مثقْوب.

Engkau bersedekah kepada fakir miskin kemudian, engkau menghina dan menyulitkan mereka, (itu seperti)
kantong bocor

تقوم الليل وتصوم النهار وتطيع ربك" لكــن. .. قاطع الرحم كيس مثقْوب

Engkau sholat malam hari, puasa di siang hari,  dan mentaati tuhanmu,  tapi engkau memutuskan (tali) silaturrahmi, (jelas itu adalah)
kantong bocor

تصوم وتصبر عَلى الجوع و العطش" لكـن .. تسب وتشتم وتلعن كيس مثقْوب

Engkau sabar dengan haus dan lapar,  tapi engkau menghina dan mencaci, (sama dengan)
kantong bocor

" تلبسين الطرحه والعباية فوق الملابس "لكـن .. العطر فواح كيس مثقْوب

Engkau memakai baju kerudung dan kebaya,  tapi minyak Wangi menyengat, (itu)
kantong bocor

تكرم ضيفك وتحسن إليه لكـن .. بعد خروجه تغتابه وتخرج مساوئه كيس مثقْوب

Engkau memuliakan tamumu dan berbuat baik kepadanya,  tapi setelah dia pergi engkau menggunjingkanya, (sungguh itu)
kantong bocor

أخيرا ً لا تجمعوا حسناتكم في كيس مثقْوب . تجمعوها بصعوبة من جهة .. ثم تسقط بسهولة من جهه أخرى..
يا رب اسألك لي ولأحبتي الهداية والغفران .

Pada akhirnya engkau hanya mengumpulkan kebaikanmu dalam kantong bocor,  satu sisi engkau mengumpulkan dengan susah payah kemudian engkau menjatuhkannya dg mudah di sisi lain.

Ya Rabb, kami mohon hidayah dan ampunan atas kami dan orang-orang yg kami cintai

عجائب الشعب العربي :

Keganjilan-keganjilan orang-orang Arab (secara khusus dan kaum muslimin umumnya)

1- لايستطيع السفر للحج لأن تكلفة الحج مرتفعه .. لكن يستطيع السفر رغبةً في تغيير الجو !
ألا إن سلعة الله غالية

1. Tidak mampu pergi haji karna biayanya besar,  akan tetapi sanggup pergi wisata mengganti suasana,
bukankah perdagangan Allah itu mahal

2- لايستطيع شراء الأضحية لغلاء السعر لكن يستطيع شراء آيفون لمواكبة الموضة.
ألا إن سلعة اللَّـه غالية

2. Tidak sanggup membeli hewan qurban karna harganya yg mahal,  tapi sanggup membeli iPhone sekedar ganti model. 
bukankah perdagangan Allah itu mahal

3- يستطيع قراءة محادثات تصل إلى ١٠٠ محادثه في اليوم ..
ولا يستطيع قراءة ١٠ آيات من القرآن بحجة ليس لديه وقت لقراءة القرآن
ألا إن سلعة الله غالية

Sanggup membaca chatingan hingga seratus percakapan tiap hari,  namun tidak sanggup membaca 10 ayat alquran  dengan dalih tiada waktu yg cukup untuk membaca.
bukankah perdagangan Allah itu mahal

قليل من سيرسلها لأنه يشعر بالحرج .

Sedikit yg mau menyebarkannya/ men share karena merasa berat..

تخيل ان الله يراك وانت تنشرها لاجله.

Angankan di benakmu bahwa Allah selalu melihatmu.. Dan engkau menyebarkannya karenaNya..

اذا اعجبتك الفكرة ..  فانشرها .
وإذا لم تعجبك .. فمر كأنك لم ترى شيئا.

Jika engkau terpanggil sebab tulisan ini maka sebarkanlah.. Namun jika tidak maka anggap engkau tidak pernah lihat..

يارب من يرسلها ترزقه من حيث لايحتسب

Ya Robb... Siapa yg mau menshare tulisan ini berilah rizki dari arah yg tidak disangka-sangka..

Sabtu, 30 Desember 2017

SERIAL QIRA'AT Imam Ibnu Amir

باب الإستـعاذة
الإستعاذة مطلوبة لمن يريد القراءة.  وصيغتها المختارة (أعوذ بالله من الشيطان الرجيم). واختلف العلماء فى حكمها، هل هى مستحب أم واجب ؟ فالأرجح هو الأول.

BAB ISTI'ADZAH
Bacaan ta'awudz merupakan hal yang dianjurkan. Adapun untuk redaksiny adalah أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. Mengenai hkumnya ada perbedaan diantara ulama antara sunnah atau wajib. Adapun yg sunnah merupakan pndapat yg lbh kuat
 
*باب البسملة*
الجمع بين السورتين له ثلاثة أوجه: وهى
1. الفصل بين السورتين بالبسملة مع ثلاثة أوجه، وهو المقدم عند أهل الأداء. وكيفية الأدء بها قد ذكرت من قبل في منهج قالون، أنظرها.
2. السكت من غير بسملة، وكيفية الأداء بها أن تسكت لحظة لطيفة من غير تنفس بمقدار حركتين، ثم تبدأ بأول السورمن غير بسملة.
3. الوصل بلا بسملة، وهو أن تصل بين السورتين من غير بسملة.
واختار أهل الأداء لمن يسكت بين السورتين البسملة في الأربع الزهر (القيامة، البلد، التطفيف، والهمزة) ولمن يصل بينهما السكت بينهما.
Terkait dalam bab basmalah ada keterangan yg sudah dtuturkan sbgmana dlm pembahasan imam qolun.
👉 Dan dtambah dengan saktah tanpa basmalah. Detail aplikasiny adalah berhenti sjenak tanpa nafas seukuran dua harakat kemudian memulai ke awal surat tanpa basmalah
👉 kemudian washl tanpa basmalah

Yang dipilih oleh para praktisi qira'at trkait saktah dan wasl pda surat qiyamah, albalad, almuthoffifin, dan alhumazah

والجمع بين الناس والفاتحة، فكل القراء يبسملون وجها واحدا فقط،
وكذا الوصل آخر السورة بأولها كمن يكرر سورة الإخلاص، وكذلك أيضا الجمع بين السورة بما فوقها،
فإن البسملة متعينة لجميع القراء سوى براءة والأنفال، فلهم  فيهما ثلاثة أوجه: القطع والسكت والوصل، وكل ذلك بلا بسملة.
Adapun mengenai mengumpulkan antara annas dngan alfatihah setiap qurro membca basmalah dngan satu wajah satu bgt jga wasl pda akhir surat untuk kembali ke awal lg seperti mengulang2 surat, dan masih sma caranya ketika mengumpulkan antara satu surat dngan surat atasnya. Karena keterkaitan basmalah itu dtentukan oleh para qurro kecuali  attaubah dan alanfal, antara dua surat ini ada 3 wajah, memutus, saktah, dan wasl smuany tanpa basmalah

*باب المــد*
BAB MAD

قرأ بتوسط المنفصل والمتصل، مثل: (يآيها الذين آمنو، وجآء)

Antara mad wajib muttasil dan mad jaiz munfasil membca 4 harokat

*باب الهـمزتين فى كلـمة*

BAB TENTANG DUA HAMZAH DALAM SATU KALIMAT

إذااجتمعت الهمزتان المفتوحتان في كلمة واحدة، مثل:(أأنذرتهم، أألد)
فلهشام وجهان :
التحقيق مع إدخال ألف بينهما،
والتسهيل مع الإدخال.
ketika sama2 fathah maka ada 2 macam cara
Yaitu dengan tahqiq dsertai memasukkan alif diantara keduanya dan slanjutnya dngan tashil dertai memasukkan

أماإذا كانت الهمزتان المجتمعتان في كلمة واحدة، بأن كانت الأولى مفتوحة، والثانية مضمومة، فلهشام فيهاوجهان: تحقيق الهمزتين مع الإدخال،
وتحقيق مع عدم الإدخال، مثل: (أؤنبئكم ).

Ketika yg pertama fathah
Dan yg kedua adalah dlommah
Maka ada dua bacaan
Tahqiq dengan memasukkan dan tahqiq tanpa memasukkan

وأما في (أأنزل، وأألقي) فله ثلاثة أوجه: وهى
1،2 تحقيق الهمزة وتسهيلها مع الإدخال،
3 تحقيق الهمزة مع عدم الإدخال

Rincian kasus yg sama mempunyai macam yg berbeda dalam pembacaan....ada tiga macam

أما إذا اجتمعت الهمزتان، بأن كانت الأولى مفتوحة والثانية مكسورة،
فليس لهشام فيها قاعدة مطردة حيث يدخل ألفا بين الهمزتين في بعض الكلمات قولا واحدا،
ويدخل ألفا بخلف عنه في كلمات أخرى.

Ketika yg pertama fathah
Dan yg kedua kasroh
Dalam satu tempat bsa hnya satu macam bacaan yaitu dngan memasukkan alif tapi dalam kasus lain bsa dua yaitu dngan memasukkan dan tanpa memasukkan

الكلمات التي أدخل فيها ألفا بين الهمزتين قولا واحدا :
أئنكم لتأتون الرجال – الأعراف والعنكبوت.
أئن لنا لأجرا –الأعراف والشعراء.
أإذا كنا ترابا أئنا – الرعد.
أإذا كنا عظاما ورفاتا – الإسراء.
أإذا ما مت – مريم.
أإذا كنا ترابا وعظاما أئنا لمبعوثون – الصافات.
أئذا كنا ترابا وعظاما أئنا لمدينون- أئنك – أئفكا –  الصافات.  أئذا كنا ترابا وعظاما أئنا لمبعوثون – الواقعة.
أئنكم لتكفرون – فصلت.

Contoh di atas yg satu macam bacaan

الكلمات التي فيها تحقيق الهمزة وتسهيلها مع الإدخال:
أئنا لمبعوثون – المؤمنون.
أإذا كنا ترابا وآبآؤنا أئنا لمخرجون – النمل.
أئنا لفي خلق جديد – السجدة.
أئنا لمردودون في الحافرة – النازعات.
الكلمات التي فيها الوجهان: الإدخال وعدمه:
أئنكم لتشهدون – الأنعام.
أئنك لأنت يوسف – يوسف.
أئنكم – النمل.
أإله مع الله - كله في النمل.
أئن ذكرتم – يس.
ويقولون أئنا لتاركوا آلهتنا لشاعر مجنون- الصافات.
أئذا متنا – ق.

Contoh di atas yg dua macam bacaan

قرأ ابن عامر همزة استفهام في المواضع التالية خلافا لحفص :
Beberapa contoh bacaan tentang hamzah istifham, imam ibnu amir mempunyai perbdaan dngan hafs

1. أآمنتم – الأعراف، طه، الشعراء. وروي عن هشام تسهيل الهمزة الثانية من دون إدخال بينهما.

Diriwayatkan oleh hisyam cntoh di atas dngan membca tashil tanpa memasukkan alif

2. أأعجمي – أسقط هشام همزة الاستفهام من كلمة (أأعجمي) وروى عن ابن ذكوان بتسهيل الهمزة الثانية كحفص.
Dalam cntoh di atas hisyam membca dngan menggugurkan hamzahny. Adapun didapati riwayat ibnu dzakwan dngan tashil sprti hafs

3. أأذهبتم – الأحقاف، زاد فيها ابن عامر همزة استفهام.  ولهشام فيها حسب قاعدته :إدخال الف بين الهمزتين مع تحقيق الثانية وتسهيلها.
Dlam cntoh di atas ibnu amir menambahkan hamzah istifham...shingga ada knskwensi untuk hisyam dsesuaikan dngan kaidah tentang dua hamzah yaitu dngan memasukkan ali dsertai tahqiq dan tashil hruf kedua

4. أن كان - سورة القلم – زاد ابن عامر همزة الاستفهام قبل (أن). ولهشام فيها : الإدخال مع التسهيل فقط ولابن ذكوان التسهيل من غير إدخال.
Cntoh di atas ibnu amir menambah hamzah istifham. Adapun hisyam membca dngan tashil dan memasukkan saja...sdangkan ibnu dzakwan tashil tanpa memasukkan
 
5. أآلهتنا - سهل الهمزة الثانية ابن عامر من دون إدخال الف بينهما، وأئمة – روي عن هشام تحقيق الهمزة الثانية مع الإدخال وعدمه.

Contoh
أآلهتنا
Ibnu amir membaca tashil kedua tanpa memasukkan

Contoh أئمة
Membca tahqiq kedua dsertai memasukkan dan tanpa memasukkan bgi hisyam

Biografi

*LAMPIRAN*
*ابـن عامـــر الشامى*
هو عبد الله بن عامر بن يزيد بن تميم بن ربيعة بن عامر اليحصبى – بتثليث الصاد – نسبة إلى يحصب بن دهمان، وكنيته أبو عمران، وهو أحسن القرآء السبعة وأعلاهم سندا، ولد سنة إحدى وعشرون من الهجرة.
ولجلالته فى العلم والإتقان جمع له الخليفة بين القضاء والإمامة ومشيخة الإقراء بدمشق، وتوفى بدمشق يوم عاشوراء سنة ثمان عشرة ومائة.
وله راويان : هشام وابن ذكوان.
1.هشــام :
هو هشام بن عمار بن نصير بن مسيرة السلمى الدمشقى، وكنيته أبو الوليد، وهو إمام أهل دمشق وخطيبهم ومقرئهم ومحدثهم ومفتيهم مع الثقة والضبط والعدالة، وكان فصيحا علامة واسع العلم والرواية والدراية، وتوفى هشام سنة خمس وأربعين ومائتين.
2.ابـن ذكـوان :
هو عبد الله بن أحمد بن بشر- ويقال بشير- ابن ذكوان بن عمرو، وكنيته أبو محمد، وقيل أبو عمرو الدمشقى.
ولد يوم عاشوراء سنة ثلاث وسبعين ومائة، وهو إمام شهير ثقة، شيخ الإقراء بالشام، وإمام جامع دمشق، انتهت اليه مشيخة الإقراء بدمشق بعد هشام، وتوفى يوم الإثنين بقيتا من شوال سنة وأربعين ومائتين.

PANDANGAN AS-SUYUTHI TTNG MENGAMALKAN HADITS DLO'IF


by alfasiry_

Mengenai masalah mengamalkan hadits dho’if, Imam Ibnu Sholah (557-643 H), Imam Nawawi (631-676 H),  al-Hafidz Ibnu Hajar (773-852 H) dan Imam Suyuthi (849-911 H) merupakan satu paket manhaj yang sama dan saling melengkapi.

Kitab ulumul hadits yang disusun oleh Imam Ibnu Sholah pada abad ke 7 secara brilian memaparkan teori lengkap mengenai ilmu hadits baik diroyah maupun riwayah. Kitab ini disederhanakan setelah puluhan tahun kemudian oleh Imam Nawawi supaya ringkas dan mudah dipahami yang diberi nama at-taqrib wat-taisir. Kemudian Imam Suyuthi dipenghujung abad 9  menulis syarah dari ringkasan an-Nawawi ini dan diberi nama Tadribur-Rawi syarhu taqrib an-Nawawi. As-Suyuthi dalam kitab syarahnya tersebut seringkali merujuk dan menukil pemikiran ilmu hadits dari fakar hadits yang disebutnya sebagai syeikhul Islam. Dan yang dimaksudkan beliau dengan sebutan tersebut tidak lain kecuali al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolani.

Jika kita  baca kitab tadribur-Rawi, kita pasti menemukan sebutan Syeikh, Mushonnif dan Syeikhul Islam didalamnya.

Sebutan Syeikh dimaksudkan as-Suyuthi kepada Imam Ibnu Sholah. Sebutan Mushonnif dimaksudkan kepada Imam Nawawi sedang yang dimaksud dengan sebutan Syeikhul Islam adalah al-Hafidz Ibnu Hajar.
Dalam kitab Tadribur-Rawi 1/360, Imam Suyuthi membuat satu judul khusus yaitu,

شروط العمل بالأحاديث الضعيفة
_“Syarat-syarat mengamalkan hadits dlo’if”_

Dalam bab ini dijelaskan oleh beliau pandangan Ibnu Sholah yang telah diringkas Imam Nawawi kemudian diberi penjelasan/perbandingan pendapat yang di konversikan dengan pandangan Ibnu Hajar.

Berikut ini terjemahan bebas syarah Imam Suyuthi:

“Menurut Ahli Hadits dan yang lainnya dibolehkan tasahul (bersikap lunak) terhadap sanad hadits dloif serta periwayatan selain yang Maudlu’ dari hadits dlo’if. Serta (dibolehkan) mengamalkannya tanpa menjelaskan kedloifannya dalam hal selain yang berkaitan dengan Aqidah (sifat Allah ta’ala, yang jaiz maupun yang mustahil bagi-Nya) penafsiran kalam-Nya, atau Hukum-hukum seperti halal dan haram dan sebagainya.

Hadits dloif yang dibolehkan diatas seputar, kisah-kisah, fadlo’il amal dan nashihat.

Diantara muhadits yang berpandangan demikian seperti Imam Ahmad bin Hanbal, Ibnu Mahdi dan Ibnul Mubarok. Mereka berkata:

إِذَا رُوِّينَا فِي الْحَلَالِ وَالْحَرَامِ شَدَّدْنَا، وَإِذَا رُوِّينَا فِي الْفَضَائِلِ وَنَحْوِهَا تَسَاهَلْنَا.
_Jika kami meriwayatkan hadits tentang halal dan haram, maka kami bersikap keras. Sedang jika kami meriwayatkan mengenai fadloil amal dan sebangsanya, kami bersikap lunak.”_

As-Suyuthi memberi penjelasan, bahwa Ibnu Sholah dan Imam Nawawi tidak menyebutkan syarat bolehnya meriwayatkan dan mengamalkan hadits dlo’if selain apa yang telah disebutkan diatas. Yaitu selama bukan hadits maudlu’ dan hanya berkaitan dengan fadloil amal atau sejenisnya.

Sementara Ibnu Hajar al-Asqolani merinci persyaratan ini menjadi 3 yaitu:

1. Kedloifan haditsnya ringan/tidak berat. Dengan demikian tidak termasuk hadits yang diriwayatkan tunggal melalui rawi pendusta, dituduh dusta dan yang kentara/sangat kekeliruannya. (al-Ula’i  menukil ini sebagai kesepakatan para muhaddits)
2. Hadits dloif tersebut berada dibawah dasar amalan yang dilegalkan syari’at.
3. Tidak meyakini benarnya/tetapnya hadits dloif tersebut ketika diamalkan, hanya sekedar kehati-hatian saja.

Persyaratan yang dirinci Ibnu Hajar ini disepakati as-Suyuthi dan beliau tidak mengkritisinya sedikitpun.

Demikianlah tinjauan sederhana mengenai pandangan Imam Suyuthi mengenai Hukum mengamalkan hadits Dho’if.

Allahu A’lam

Tips mrndalami madhab syafi'i

**Santri yang mau mendalami fiqh Mazhab Syafi'i menurut penulis kitab Madkhol ila mazhab Syafi'i :*
* Lihat hal 559.

1. Jika baru mau mulai, silahkan hadapkan diri pada kitab-kitab kontemporer seperti fiqh manhazi. (Tradisi di pesantren kita biasanya memulai dari safinah, ke taqrib kemudian fathul mu'in).

2. Jika ingin mengetahui sudut pandang kalangan syafiiyah dalam topik2 tertentu silahkan baca tulisan kitab-kitab yang topiknya khusus, seperti masalah terawih dan maulid dari imam suyuthi.

3. Jika tujuannya pengem tahu argumen2 kalangan elit syafiiyah, dan diskusi mereka dalam menyanggah argumen mazhab lain, boleh tengok kitab-kitab muqoron syafiiyah seperti al-Hawi dan Majmu'.

4. Jika kepengen memantapkan pengetahuan terhadap fatwa2 mu'tamad kalangan syafiiyah silahkan tengok kitab2 imam Rofe'i dan Nawawi, disamping mendahulukan imam nawawi jika terjadi perbedaan antara kedua imam tersebut.

Jika ternyata dalam karya2 dua imam diatas, permasalahan tidak dijumpai atau kurang jelas, lanjutkan pencarian ke tulisan2 ibn hajar dan ar-Romli, khususnya dua syarah mereka untuk minhaz tholibin, disini boleh memilih pendapat siapa saja tanpa ada yang harus didahulukan ibnu hajar atau ar-romli.

Jika ternyata tidak dijumpai juga dalam karya2 ibnu hajar dan ar-Romli, lanjutkan pencarian ke hawasyi-hawasyi yang ditulis pada periode ke lima dalam perkembangam mazhab Syafi'i, disini juga tanpa mengutamakan pendapat siapa2, kelasnya satu level.

5. Jika ingin mantap dengan bagaimana cara pandang Imam Syafi'i serta argumen2nya dalam mazhab zadid beliau, silahkan tengok karya-karya Imam Syafi'i yang tercetak dan dapat dijumpai ditoko2 seperti al-Umm dan pelengkap2 untuk kitab induk tersebut. Untuk menambah faidah silahkan di dampingi kitab2 hafidz baihaqi untuk mengetahui kualitas hadis dan atsar.

Selasa, 19 Desember 2017

HOMOSEKSUAL MENURUT IMAM AN-NAWAWI

Kata An-Nawawi, siapapun yang menghalalkan sesuatu yang jelas haram seperti liwath (homoseksual) maka dia dihukumi murtad, kafir dan telah keluar dari Islam. An-Nawawi berkata,

أَوِ اسْتَحَلَّ مُحَرَّمًا بِالْإِجْمَاعِ كَالْخَمْرِ وَاللِّوَاطِ…فَكُلُّ هَذَا كُفْرٌ

Artinya : “atau (barangsiapa) menghalalkan sesuatu yang sudah ijma’ haram seperti khomr atau liwath….maka semua ini adalah kekufuran” (Roudhotu Ath-Tholibin, juz 10 hlm 64-65)

An-Nawawi menulis ungkapan di atas pada bab “Riddah” (kemurtadan). Artinya poin-poin yang dirinci oleh beliau adalah hal-hal yang membuat seseorang dihukumi murtad, kafir, dan telah keluar dari Islam.

Keharaman liwath memang termasuk perkara yang “ma’lumun min ad-din bi adh-dhoruroh” (perkara agama yang telah diketahui hukumnya secara pasti oleh semua orang Islam tanpa ada perselisihan, kesamaran, dan perdebatan) sebagaimana haramnya zina, minum khomr, makan babi, durhaka kepada orang tua, membunuh tanpa haqq dan semisalnya. Tapi, percaya atau tidak, di zaman sekarang ada sebagian orang yang menisbatkan diri pada Islam (liberal) yang berani dan terang-terangan menghalalkan liwath!

Mungkin ini yang dikhawatirkan Nabi dalam hadis berikut,

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي عَمَلُ قَوْمِ لُوطٍ

Artinya: “Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: ‘Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan terhadap umatku adalah perbuatan kaum Luth.’’”

Hari ini, apa yang dikhawatirkan Nabi telah menjadi kenyataan. Ada sejumlah orang yang lahirnya mengaku Islam tapi menyerukan penghalalan liwath, bahkan ada pula yang menjadi “praktisi” perbuatan tersebut.

Sesungguhnya liwath adalah perilaku yang jauh dari fitrah. Jika kita asumsikan satu generasi saja sudah terinfeksi penyimpangan ini, maka bisa dipastikan tidak akan ada kelahiran. Jika tidak ada kelahiran, maka spesies manusia akan musnah. Kalaupun kelahiran bisa dilakukan melalui kloning misalnya, tetap akan menghancurkan ajaran nasab dalam Islam.

Demikian jauhnya liwath dari fitrah, sampai-sampai salah seorang khalifah Bani Umayyah yang bernama Al-Walid bin Abdul Malik merasa tidak percaya, bahkan sekedar membayangkan sekalipun. Beliau baru tahu ada lelaki yang menyetubuhi lelaki karena Al-Qur’an menceritakannya. Ibnu Katsir (1998: 445) menukil ucapan ini dalam tafsirnya,

وَقَالَ الْوَلِيدُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ الْخَلِيفَةُ الْأُمَوِيُّ، بَانِي جَامِعِ دِمَشْقَ: لَوْلَا أَنَّ اللَّهَ، عَزَّ وَجَلَّ، قَصَّ عَلَيْنَا خَبَرَ لُوطٍ، مَا ظَنَنْتُ أَنَّ ذَكَرًا يَعْلُو ذَكَرًا

Artinya: “Al-Walid bin Abdul Malik Khalifah Al-Umawi (orang ini yang membangun Masjid Damaskus) berkata,: ‘Seandainya Allah tidak menceritakan kisah Nabi Luth, maka aku tidak pernah menduga seorang lelaki menyetubuhi laki-laki.’”

Sedihnya, perilaku liwath ini pada zaman sekarang didukung oleh kekuatan-kekuatan besar yang pengaruhnya mendunia. Di negeri kita bahkan telah menjelma menjadi satu gerakan massif.

Setidaknya ada 4 strategi yang dilakukan mereka untuk melegalkan homoseksual yang mengarah pada legalitas perkawinan sesama jenis yaitu,

(1) mengorganisir kaum homoseksual untuk bersatu dan berjuang merebut hak-haknya yang dianggap telah “dirampas” oleh negara,

(2) memberi pemahaman kepada masyarakat bahwa apa yang terjadi pada diri kaum homoseksual adalah sesuatu yang normal dan fitrah, sehingga masyarakat tidak mengucilkannya bahkan sebaliknya, masyarakat ikut terlibat mendukung setiap gerakan kaum homoseksual dalam menuntut hak-haknya,

(3) melakukan kritik dan reaktualisasi tafsir keagamaan (tafsir kisah Luth dan konsep pernikahan) yang tidak memihak kaum homoseksual, dan

(4) menyuarakan perubahan UU Perkawinan No 1/1974 yang mendefinisikan perkawinan harus antara laki-laki dan wanita.

Bisa dibayangkan betapa beratnya perjuangan mengedukasi masyarakat bahwa perilaku tersebut adalah orientasi seksual yang menyimpang dengan adanya tantangan-tantangan seperti di atas.

Tetapi di tengah-tengah gempuran propaganda yang berusaha menghalalkan liwath ini, senantiasa ada hamba-hamba Allah yang berusaha memberikan penyadaran kepada umat, baik di kalangan ulama, para dai, bahkan orang-orang umum yang kuat keislamannya. Dalam memberikan penyadaran, edukasi, dan pendampingan untuk terapi kesembuhan, ada yang melakukan dengan pendekatan psikologi, pendekatan medis, pendekatan pendidikan, pendekatan sains, termasuk pendekatan dalil.

Dalam rangka berpartisipasi memberikan penyadaran kepada kaum muslimin terkait haramnya liwath, termasuk yang semisal dengannya seperti Lesbianisme, Biseksual dan Transgender maka saya sekitar dua tahun yang lalu menulis buku khusus berjudul “LGBT dalam tinjauan Fikih”. Buku ini fokus pada pembahasan hukum fikih Islam terkait topik tersebut, tanpa berusaha menyorot dengan pendekatan-pendekatan lain yang bukan bidang saya.

Referensi yang saya pakai di antaranya kitab “Dzammu Al-Liwath” karya Al-Ajurri, makalah Dr. Wasim Fathullah yang berjudul “ Tahdziru Ahli Ash-Shiroth Min Ahli As-Sihaq Wa Al-Liwath”, tafsir ayat-ayat tentang liwath, kitab “Ad-Da’ Wa Ad-Dawa’ karya Ibnu Qoyyim, kitab “Dzammu Al-Hawa” karya Ibnu Al-Jauzi, kitab “Al-Kaba-ir” karya Adz-Dzahabi, kitab “Az-Zawajir” karya Ibnu Hajar Al-Haitami, kitab “Qoshoshu Al-Anbiya’” karya Ibnu Katsir khusus bab tentang kisah nabi Luth, kitab “Nizhom Al-‘Uqubat” karya Taqiyyuddin An-Nabhani, syarah-syarah hadis terkait liwath yang terdapat pada kitab-kitab syarah seperti “Nailu Al-Author” karya Asy-Syaukani dan “Subulu As-Salam” karya Ash-Shon’ani, pembahasan fikih liwath pada kitab-kitab fikih besar seperti “Al-Majmu’” karya An-Nawawi, “Al-Hawi Al-Kabir” karya Al-Mawardi, “Al-Muhadzdzab” karya Asy-Syirozi, “Al-Mughni” karya Ibnu Qudamah, dan “Al-Muhalla” karya Ibnu Hazm. Tidak lupa kita manfaatkan juga kitab fikih yang populer di zaman sekarang seperti “Al-Fiqhu Al-Islami” karya Wahbah Az-Zuhaili, “Fiqhu As-Sunnah” karya Sayyid Sabiq, “Al-Musu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah” dan lain-lain. Juga puluhan referensi sekunder lain yang membantu.

Adapun isi bukunya, ada tiga bahasan utama yang diuraikan yaitu, kupasan terkait liwath (homoseksual), kupasan terkait sihaq (lesbianisme) dan kupasan terkait takhonnuts (perilaku banci/efeminesi)-tarojjul (perilaku tomboi). Pembahasan terpanjang adalah pembahasan tentang liwath.

Pada saat membahas analisis bahasa liwath, diuraikan mengapa perilaku homoseksual diistilahkan dengan liwath yang dipecah dari nama Nabi Luth (لوط). Setelah itu dibahas hukum liwath. Dalam bab itu diuraikan bagaimana tegas dan kerasnya syariat Islam mengharamkan liwath melalui banyak dalil. Setelah itu secara khusus diuraikan kisah Nabi Luth secara singkat berdasarkan sumber-sumber yang kredibel agar kita selalu ingat betapa marahnya Allah dengan perilaku menyimpang ini.

Setelah itu dibahas panjang lebar tentang sanksi hukum Islam terhadap pelaku liwath ini. Dijelaskan di dalamnya bagaimana para fuqoha’ berbeda pendapat terkait sanksi terhadap mereka. Ada yang berpendapat hukumannya adalah dibunuh, ada yang berpendapat hukumannya disamakan dengan pelaku zina, dan adapula yang berpendapat hukumannya digolongkan ta’zir sehingga diserahkan pada ijtihad penguasa.

Yang berpendapat dihukum bunuh pun berbeda pendapat terkait caranya. Ada yang berpendapat cara membunuhnya dirajam, dijatuhkan dari tempat tinggi dengan kepala terbalik setelah itu dirajam, dipenggal kepalanya, dijatuhi tembok sampai mati, dibakar, dan dipenjara di tempat busuk sampai mati. Dari sekian variasi ikhtilaf ini kemudian diuraikan pendapat terpilih. Setelah itu pembahasan tentang liwath ditutup dengan pembahasan bagaimana hukumnya jika ada dua lelaki yang bercumbu tapi tidak sampai melakukan sodomi. Termasuk juga dibahas bagaimana hukumnya jika yang disodomi adalah wanita, bukan lelaki.

Setelah itu pada bagian kedua dibahas tentang hukum sihaq/lesbianisme dalam Islam termasuk sanksi sistem hukum Islam terkait perilaku ini.

Lalu pada bagian ketiga dibahas tentang perilaku banci dan tomboi yang secara alami akan menyeret pada tindakan liwath, sihaq, biseksual dan transgender. Dalam bab ini dibahas orang-orang banci yang ternyata sudah ada sejak zaman Nabi, macam-macam orang banci dan tomboi, hukum berperilaku banci dan tomboi, dan sanksi perilaku banci atau tomboi.

Dibahas juga bagaimana hukum jika menuduh orang lain banci atau tomboi, hukum orang banci menjadi imam salat, hukum penghasilan banci, hukum orang banci melihat wanita ajnabiyyah, hukum pernikahan orang banci, hukum mengucapkan salam kepada orang banci, hukum sembelihan banci, dan hukum persaksian banci.

Setelah itu, buku ini ditutup dengan pembahasan taubat dari perilaku LGBT.

Buku ini diterbitkan Universitas Brawijaya Press tahun 2016 yang lalu dengan kata pengantar Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, yaitu Dr.dr. Sri Andarini, M.Kes. Tebalnya 263 halaman.

أعاذنا الله من شر اللواط وشياطينه

Versi Situs: http://irtaqi.net/2017/12/19/membolehkan-homoseksual-menurut-imam-nawawi/

***
Muafa
1 Robi'u Ats-Tsani 1439 H

Kamis, 30 November 2017

dari Prof. Quraish Shihab

*

*"Keberuntungan"* kadang memainkan perannya dalam kehidupan manusia, sekalipun kerap tidak masuk akal.
Karena itulah takdir mereka.

Boleh jadi *keterlambatanmu* dari suatu perjalanan adalah *keselamatanmu*

Boleh jadi *tertundanya pernikahanmu* adalah suatu *keberkahan*

Boleh jadi *dipecatnya* engkau dari pekerjaan adalah suatu *maslahat*

Boleh jadi sampai sekarang engkau *belum dikarunia anak* itu adalah *kebaikan dalam hidupmu*.

Boleh jadi engkau *membenci sesuatu* tapi ternyata itu *baik untukmu,* karena *Allah Maha Mengetahui* Sedangkan engkau tidak mengetahui.

Sebab itu, *jangan engkau merasa gundah* terhadap segala sesuatu yang terjadi padamu, karena *semuanya sudah atas izin Allah*

Jangan *banyak mengeluh* karena hanya akan *menambah kegelisahan.*

*Perbanyaklah bersyukur,  Alhamdulillah*,  itu yang akan *mendatangkan kebahagiaan.*
*Terus ucap alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah*, sampai engkau tak mampu lagi mengucapkannya.

*Selama kita masih bisa tidur tanpa obat tidur, kita masih bisa bangun tidur hanya dengan satu bunyi suara, kita terbangun tanpa melihat adanya alat-alat medis yang menempel di tubuh kita, itu pertanda bahwa kita hidup sejahtera.*

*Alhamdulillah,* *Alhamdulillah,* *Alhamdulillah,* ucapkan sampai engkau tak mampu lagi mengucapkannya.

*Jangan selalu melihat ke belakang karena disana ada masa lalu yang menghantuimu.*

*Jangan selalu melihat ke depan karena terkadang ada masa depan yang membuatmu gelisah.*

*Namun lihatlah ke atas karena di sana ada Allah yang membuatmu bahagia.*

Tidak harus banyak teman agar engkau menjadi populer, *singa sang raja hutan lebih sering berjalan sendirian.* Tapi kawanan domba selalu bergerombol.

*Jari-jari juga demikian; kelingking, jari manis, jari tengah, jari telunjuk, semuanya berjajar bersampingan kecuali jari jempol dia yang paling jauh diantara keempat itu.*

Namun perhatikan engkau akan terkejut kalau semua jari-jari itu *tidak akan bisa berfungsi dengan baik tanpa adanya jempol yang sendiri*, yang jauh dari mereka.

Karena itu, sebenarnya yang diperhitungkan *bukanlah jumlah teman yang ada di sekelilingmu* akan tetapi banyaknya *cinta dan manfaat* yang ada di sekitarmu, sekalipun engkau jauh dari mereka.

Menyibukkan diri dalam pekerjaan akan menyelamatkan dirimu dari tiga masalah; yaitu *kebosanan, kehinaan, dan kemiskinan*

Aku tidak pernah mengetahui adanya rumus kesuksesan, tapi aku menyadari bahwa *rumus kegagalan adalah sikap "asal semua orang  "*

*Teman itu seperti anak tangga*, boleh jadi ia *membawamu ke atas* atau ternyata sebaliknya *membawamu ke bawah*, maka *hati-hatilah anak tangga mana yang sedang engkau lalui.*

Hidup ini akan terus berlanjut baik itu engkau tertawa ataupun menangis, karena itu jangan jadikan hidupmu penuh kesedihan yang tidak bermanfaat sama sekali.

*Berlapang dadalah*, *maafkanlah*, dan *serahkan urusan manusia kepada Tuhan*, karena engkau, mereka, dan kita semua, semuanya *akan berpulang kepadaNya.*

*Jangan tinggalkan sholatmu sekali pun*. Karena di sana, jutaan manusia yang berada di bawah tanah, sedang berharap sekiranya mereka diperbolehkan kembali hidup mereka akan bersujud kepada Allah SWT walau sekali sujud.

*Jangan selalu bersandar pada cinta, karena itu jarang terjadi.*

*Jangan bersandar kepada manusia karena ia akan pergi*.

*Tapi bersandarlah kepada Allah SWT, Tuhan YME, karena Dialah yang menentukan segala sesuatu.*

*Subhanallah wa bihamdihi subhanallah hiladzim.*