Rabu, 29 Juni 2016

Ilmu dan tirakat

Enome riyalat, tuwo nemu derajat, riyalat kuwi jiret weteng nyengkal moto (KH.BASYER JEKULO)

Selasa, 28 Juni 2016

BENARKAH GUS DUR BEGINI? BENARKAH GUS DUR BEGITU? YUK SIMAK SAMBIL MIKIR...

Gus Dur itu sekuler? Ya. Benar. Gus Dur itu sekuler. Saking sekulernya, waktu beliau menjadi Presiden, selama bulan Ramadhan semua siswa diliburkan supaya bisa beribadah dengan tenang.

Gus Dur itu antek Zionist? Ya. Benar. Gus Dur itu antek Zionist. Jaman Ehud Barak menjadi Perdana Menteri Israel, Gus Dur pernah berkunjung ke sana. Pak Ehud bertanya, bagaimana cara menghentikan perlawanan rakyat Palestina, maka  Gus Dur menjawab dengan lantang, “Gampang sekali. Beri kemerdekaan rakyat Palestina sekarang juga”. Pak Ehud terhenyak dengan muka merah padam.

Gus Dur itu antek Amerika? Ya. Benar. Gus Dur itu antek Amerika. Saking setianya dengan Amerika, sesaat setelah beliau dilantik menjadi Presiden, beliau langsung kerkunjung kemana? Ke China!!! Setelah itu kemana? Ke India. Kemudian kemana? Ke Timur Tengah... Lalu kemana? Ke Eropa... dan terakhir baru ke Amerika. Puas? 

Gus Dur itu sesat? Ya. Benar. Gus Dur itu sesat. Saking sesatnya, dikisahkan dalam berbagai perjalanan, di saat semua orang tertidur pulas, beliau selalu menyempatkan waktu untuk nderes bacaan Al Quran bisa mencapai 5 juz dengan bacaan bilghoib (melantunkan bacaan Al Quran tanpa melihat teksnya).

Gus Dur itu liberal? Ya . Benar. Gus Dur itu liberal. Saking liberalnya, beliau bisa menjelaskan dengan sangat detail jika ditanya tentang dalil-dalil dari Quran, Hadits, Ijma’, dan Ijtihad, serta tak ketinggalan Qoul Ulama Besar atas semua pendapat dan tindakan beliau.

Gus Dur itu suka klenik. Ya. Benar. Gus Dur itu suka klenik. Saking sukanya beliau dengan klenik, maka banyak sekali makam wali yang terpendam dan dibuat hal yang tidak benar secara syariat, akan dikunjungi beliau. Kemudian makam itu diziarahi oleh kaum muslimin sehingga habislah praktek klenik dan praktek yang tidak dibenarkan tersebut, menjadi kunjungan ziarah yang dipenuhi dengan bacaan Kitab Suci Al Quran, Sholawat dan dzikir.

Gus Dur itu tidak pro rakyat. Ya. Benar. Gus Dur itu tidak pro rakyat. Sehingga beliau di saat menjadi Presiden menolak  impor beras dari luar negeri, karena sangat tahu bahwa stok di dalam negeri sangat cukup. Impor hanya menguntungkan orang tertentu yang ikut tandatangan, dan akan memukul harga di tingkat petani lokal.

Gus Dur itu tidak paham cara membangun negara. Ya. Benar. Saking gak fahamnya, beliau menolak campur tangan IMF dan menolak perintah untuk menjual aset-aset penting Nasional seperti Indosat, Texmaco, dll dan menolak pencabutan subsidi pupuk bagi petani. Sehingga IMF menunda pengucuran bantuannya selama masa pemerintahan beliau. Owh iya, beliau mau menego ulang keberadaan dan bagi hasil dengan Freeport.

Gus Dur itu penganut Syi’ah. Ya. Benar. Saking setianya, beliau begitu mengidolakan Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar, dan Sayyidina Utsman. Juga begitu mengagumi sosok wanita mulia Siti Aisyah, dan Siti Hafshoh. Beliau juga sangat menguasai madzhab Syafi’i. Menguasai Kitab Hikam dengan sangat baik, dan berbagai kitab ulama Aswaja, dan hampir tidak pernah mengutip nash dari Kitab-kitab Syi’ah sebagai rujukannya.

Gus Dur itu Komunis. Ya. Benar. Gus Dur itu Komunis. Saking Komunisnya, Gus Dur sangat terbuka dengan pihak manapun yang hendak turut membangun bangsa ini. Beliau malah membuka keran demokrasi seluas-luasanya sehingga siapapun boleh mengungkapkan pendapatnya dengan bebas. Beliau membubarkan Departemen Penerangan yang dianggap hanya jadi corong legitimasi pemerintah. Bahkan organisasi masyarakat tidak dibatasi, baik berbasis agama, sosial, politik, ekonomi, kesukuan, dll...

Gus Dur itu buta hatinya. Ya. Benar. Gus Dur itu buta hatinya. Saking buta hatinya, dimanapun beliau berada, akan disambut dengan gegap gempita oleh seluruh lapisan masyarakat, yang mengagumi kejernihan hati beliau. Berbondong-bondong masyarakat dari berbagai kalangan dari masyarakat biasa hingga ulama untuk mencium tangan beliau. Ketika beliau wafat, terlalu banyak orang yang sangat kehilangan. Dan setelah itu, mereka menceritakan karomah-karomah beliau. Ulama besarpun menceritakan kehebatan Gus Dur dengan memberikan ciri-ciri kewalian yang ada di dalam beliau, tapi tidak berani manyatakan Gus Dur itu wali, dengan ketawadlukan bahwa yang tahu wali hanyalah wali.... Dan beberapa diantara para panutan umat dengan lugas menyatakan bahwa Gus Dur itu Wali. 

Gus Dur itu apa lagi ya? Silakan dilengkapi sendiri ya...

(Oleh: Mbak Shuniyya Ruhama H)

25 Desember 2015

#alasantri #GusDur #BapakBangsa #Haul6GusDur #HaulGusdur #6ThGusDur #Gusdurian

Kelembutan Hati Sang Guru


Diriwayatkan bhw ada seseorang yg bernama Yunus bin 'Abdul A'la. Dia adalah salah seorang murid Imam Syafi'i, ia berbeda pendapat dgn Imam Muhamad bin Idris asy Syafi'i dlm satu permasalahan disaat ia sdg mengajar dimasjid.

Kemudian berdirilah Yunus sambil marah & meninggalkan pengajian lalu pulang ke rumah-nya.

Malam tiba. Yunus mendengar suara pintu rumahnya diketuk orang.

"Siapa..?" Tanya Yunus.

"Muhamad bin Idris.." Kata yg mengetuk.

Pikiran Yunus menerawang pd siapa saja yg namanya Muhammad bin Idris.

"Ini Syafi'i.."

Waktu pintu dibuka, Yunus kaget luar biasa..!

Berkata Imam Syafi'i:

"Hai Yunus, ratusan masalah menyatukan kita, apakah hanya krn 1 masalah kita berpisah..?"

Jgn-lah engkau berupaya utk selalu menang dlm setiap perdebatan, krn memenangkan hati lebih utama dari pd memenangkan perdebatan

Jgn kau hancurkan jembatan yg sudah kau bangun & kau seberangi. Krn bisa jadi engkau membutuhkan-nya utk kembali disatu hari nanti..! Upayakan engkau selalu membenci kesalahan, bukan membenci pelaku-nya

Marahlah engkau pd maksiat, tapi maafkan pelaku-nya. Kritiklah pendapat orang, namun tetap hormatilah org yg mengatakan-nya. Tugas kita dlm hidup ini adalah membunuh penyakit, bukan membunuh orang yg sakit..!

Jika orang datang pd-mu meminta maaf, berilah maaf..! Kalau engkau didatangi orang bingung, dengarkanlah curhatan-nya..! Jika orang yg butuh datang pd-mu, berilah ia dari sebagian apa yg telah Allah berikan pd-mu. Bila ada yg datang menasihati-mu, berterima kasihlah kpd-nya...!

Meskipun engkau hanya memanen duri disatu hari, tetaplah kau tanam bunga-nya & jgn pernah ragu. Krn balasan dari Zat yg Maha Kasih & Maha Dermawan jauh lebih mulia dari pd balasan manusia.

Wallahu A'lam...

Senin, 27 Juni 2016

PAHALA YANG BESAR BAGI PARA ISTRI

Tersebut dalam riwayat dari Abu Hurairah Ra, katanya, suatu hari Rasulullah S.A.W menjenguk putrinya, Fathimah-. Sampai di rumahnya, Rasulullah melihat putrinya sedang menggiling tepung sambil menangis.

Rasulullah bertanya:
”Kenapa menangis, Fathimah. Mudah mudahan Allah tidak membuat matamu menangis lagi”.
Fathimah menjawab:
”Bapak, aku menangis hanya karena batu penggiling ini, dan lagi aku hanya menangisi kesibukanku dirumah yang datang silih berganti”.
Rasulullah kemudian mengambil tempat duduk disisinya. Fathimah berkata:
”Bapak demi kemulyaanmu, mintakanlah kepada Alli supaya membelikan seorang budak untuk membantu pekerjaan pekerjaanku membuat tepung dan menyelesaikan pekerjaan rumah”.
Manakala Rasulullah S.A.W selesai mendengar perkataan putrinya, beliau bangkit dari duduknya dan berjalan menuju tempat penggilingan. beliau memungut segenggam biji-bijian gandum dimasukkan kepenggilingan. Dan mebaca
“BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIIMI”
Maka berputarlah alat penggilingan itu karena izin Allah. Beliau terus memasukkan biji-bijian itu sementara alat penggiling tiu terus berputar dengan sendirinya, seraya memuji Allah dengan bahasa yang tidak di pahami manusia. Hal itu terus berajalan hingga biji-bijian itu habis. Rasululah S.A.W bersabda kepada alat penggilingan itu:
”Berhentilah dengan ijin Allah”
. Seketika alat itu berhenti. Ia berkata seraya mengutip ayat Al Qur’an:
”HAi orang orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargam dari api neraka, Yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar, keras yang tidak pernah mendurhakai Allah terhadap yang diperintahkanNYA, dan mereka selalu mengerjakan segala apa yang diperintah”. (Qs At Tahrim 6)
Merasa takut jika menjadi batu kelak akan masuk neraka, demikian tiba tiba batu itu berbicara dengan ijin Allah. Ia berbicara menggunakan bahasa Arab yang fasih. Selanjutnya batu itu Berkata:
”Wahai Rasulullah, demi dzat yang mengutusmu dengan hak menjadi Nabi dan rasul, seandainya engkau perintahkan aku untuk menggiling biji-bijian yang ada diseluruh jagat Timur dan Barat, niscayaakan kugiling seluruhnya’. Dan aku mendengar pula bahwa Nabi S.A.W bersabda:”Hai batu, bergembiralah kamu sesungguhnya kamu termasuk batu yang kelak di gunakan untuk membangun gedung Fathimah disorga”. Seketika itu batu penggiling itu sangat bahagia dan berhenti.
Nabi S.A.W bersabda kepada putrinya, Fathimah :
”Kalau Allah berkehendak, hai Fathimah, niscaya batu penggiling itu akan bergerak dengan sendirinya untukmu. Tetapi Allah berkehendak mencatat kebaikan-kebaikan untuk dirimu dan menghapus keburukan-keburukanmu serta mengangkat derajatmu.
Hai Fathimah mana saja seoarang istri yang membuatkan tepung untuk suaminya dan anak anaknya, kecuali Allah mencatat baginya memperoleh kebaikkan dari setiap butir biji yang tergiling, Dan menghapus keburukkannya serta meninggikan derajatnya.

Hai Fathimah mana saja istri yang berkeringat disisi alat penggilingannya karena membuatkan bahan makanan untuk suaminya, kecuali Allah akan memisahkan atas dirinya dan neraka sejauh tujuh hasta.

Hai Fathimah mana saja seorang istri yang meminyaki rambut anak-anaknya dan menyisir rambut mereka dan mencuci baju mereka, kecuali Allah akan mencatat baginya memperoleh pahala seperti pahalanya orang yang memberikan makan kepada seribu orang yang sedang kelaparandan seperti pahalanya orang yang memberikan pakaian kepada seribu orang yang sedang telanjang.

Hai Fathimah mana saja istri yang memenuhi kebutuhan tetangganya, kecuali Allah kelak mencegahnya(tidak memberi kesempatan baginya) Untuk minum air dari telaga Kautsar besok di hari kiamat. Hai Fathimah tetapi yang lebih utama dari pada itu semua adalah keridhoan suami terhadap istrinya.

Sekiranya suamimu tidak meridhoimu, tentu aku tidak akan mendoakan dirimu”. “Bukankah engkau mengerti, hai Fathimah, bahwa keridhoan suami itu menjadikan sebagian dari keridhoan Allah, dan kebencian suami merupakan bagian dari kebencian Allah.

Hai Fathimah, manakala seorang istri sedang mengandung, maka para malaikat memohonkan ampunan untuknya, dan setiap hari dirinya dicatat memperoleh seribu kebajikan dn seribu keburukannya di hapus. Apabila telah mencapai rasa sakit (menjelang melahirkan)maka Allah mencatat baginya memperoleh pahala seperti pahalanya orang orang yang berjihad di jalan Allah. Apabila telah melahirkan dirinya terbebas dari segala dosa seperti keadaannya di hari setelah dilahirkannya oleh ibunya”.

“Hai Fathimah, mana saja istri yang melayani suaminya dengan niat yang benar, kecuali dirinya terbebas dari dosa-dosanya bagaikan pada hari dirinya dilahirkan ibunya. Ia keluar dari dunia (yakni mati) kecuali tanpa membawa dosa, ia menjumpai kuburnya sebagai pertamanan sorga, Allah memberinya pahala seperti pahala seribu orang yang naik haji dan berumrah, dengan seribu malaikat memohonkan ampun padanya sampai hari kiamat”.

“Mana saja seorang istri yang melayani suaminya sepanjang hari dan malam, di sertai hati baik, niat yang ikhlas dan niat yang benar, kecuali Allah akan mengampuni semua dosa-dosanya. Pada hari kiamat kelak dirinya akan di beri pakaian berwarna hijau, dan dicatatkan untuknya pada setiap rambut yang ada di tubuhya dengan seribu kebajikan, dan Allah memberi pahala untuknya sebanyak orang yang pergi haji dan umrah”.

“Wahai Fathimah mana saja seorang istri yang tersenyum manis di muka suaminya, kecuali Allah akan memperhatikannya dengan penuh mendapat rahmat.

Hai Fathimah, mana saja seorang istri yang menyediakan tidur bersama suaminya dengan sepenuh hati, kecuali ada seruan yang di tujukan kepadanya dari balik langit: Hai perempuan menghadaplah dengan membawa amalmu, sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu dan yang datang”.

“Wahai Fathimah, mana saja seorang istri yang meminyaki rambut suaminya demikian juga jenggotnya memangkas kumisnya dan memotong kuku- kukunya, Kecuali Allah kelak memberi minum padanya dari “RAHIQIM MAKHTUM”(tuak yang tersegel)dan dari sungai yang terdapat di sorga. bahkan Allah akanmeringankan beban sakaratulmaut, kelak dirinya akan menjumpai kuburnya bagai taman sorga. Allah mencatatnya terbebas dari neraka dan mudah melewati shirath(titian)”.

Pengertian, yang dimaksud “RAHIQ” adalah “AL-KHAMRU ASYSYAFIYATU ATHTHAYYIBATU”, yakni arak yan jernih lagi sangat bagus. sedangkan makna “MAKHTUM”adalah. ”AL-MAMNU’MIN AN TAMASSAHU YADUN ILAA AN YAFUKKAL ABRAARU KHATMAHU”, yakni tercegah dari penjamahan tangan hingga orang -orang yang baik melepas segalanya. Jelas bahwa barang yang disegel jauh lebih baik ketimbang barang yang mengalir.

Diriwayatkan dari ibnu mas’ud ari Nabi S.A.W bahwa beliau besabda:
”IDZAA GHASALATIL MAR-ATU TSIYAABA ZAUJIHAA KATABALLAHU LAHAA ALFA HASANATIN WAGHAFARA LAHAA ALFA SAYYI-ATIN WARAFA’A LAHAA ALFA DARAJATIN WASTAGHFARA LAHAA KULLU SYAI-IN THALA’AT ‘ALAIHISY-SYAMSU”. (AL HADITS)
Artinya:
“ketika seorang istri mencucikan pakaian suaminya, maka Allah mencatat untuknya memperoleh seribu kebajikan dan mengampuni seribu keburukannya. meninggikan seribu kali derajat untuknya dan semua barang yang berada di bawah siraman mentari memohonkan ampun untuknya”.
Aisyah RA mengatakan :
Suara penenunan yang dilakukan oleh seorang istri, itu menyamai gemuruh suara takbir dalam perang fi sabilillah. mana saja seorang istri yang memberi pakaian suaminya dari hasil tenunannya, kecuali pada benang tenunan itu tercatat seribu kali kebajikan.
Nabi S.A.W bersabda:
”MANISTARAA LI’IYAALIHI SYAI-ANTSUMMA hAMALAHU BIYADIHI ILAIHIM THALLAAHU ‘ANHU DZUNUUBA SAB’IINA SANATAN”.
Artinya:
“Barang siapa yang membuat gembira hati seorang istri maka ia bagaikan tengah menangis karena takut kepada Allah maka Allah mengharamkan tubuhnya dari api neraka”.
Rasulullah bersabda:
”Barang siapa yang membuat gembira hatinya seorang wanita, seakan akan menangis karena takut kepada Allah. Dan barang siapa menagis karena takut pda Allah maka Allah mengharamkan tubuhnya masuk kedalam api neraka”. (al hadits)
Rasulullah S.A.W bersabda:
’Suatu rumah yang mana didalamnya terdapat anak anak perempuan, maka setiap hari Allah menurunkan dua belas rahmat dan tidak henti hentinya di kunjungi malaikat. Dan bagi kedua orang tuanya setiap hari dan malam dicatat seperti ibadah selama tujuh puluh tahun”.

Sabtu, 25 Juni 2016

Amalan bagi yang mempunyai hajat

RAsul saw bersabda: siapa saja yg punya hajat/keinginan maka lakukan wudhu dan carilah tempat yg sunyi (tidak di lihat org laen) kemudian melaksanakan sholat 4 rakaat dg sekali salam,
1. Surat alfatikhah 1X dan S Ihlas 10X
2. Surat alfatikhah 1X dan S ihlas 20X
3. Surat alfatikhah 1X dan S ihlas 30X
4. Surat alfatikhah 1X dan S ihlas 40X
Lalu salam
Baca
1. Surat ihlas 50X
2. Shalawat nabi 50X
3. Istighfar 50X
4. Khauqolah 50X
Selanjutnya berdoa sesuai hajat/kebutuhan nya .
Mujarab ..
#
KITAB KHOZINATUL ASROR

KH. Turaikhan Adjuhri

Kata Pengantar

Assalamualaikum Wr. Wb.
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan dan berkat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ‘’KH Turaikhan Adjuhri: Sang Pakar Falak Indonesia ‘’ ini dengan baik. Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas mata kuliah, Pemikiran Tokoh Pesantren. Makalah ini menjelaskan biografi dan pemikiran-pemikiran KH Turaikhan Adjuhri yang merupakan salah satu pakar ilmu Falak di Indonesia . Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas yang diberikan oleh dosen pengampu Dr. Farid Zaini Lc.MHI.
Makalah ini ditulis dari hasil penyusunan data-data sekunder yang penulis peroleh dari buku panduan serta infomasi dari media massa yang berhubungan dengan biografi dan pemikiran-pemikiran tokoh pesantren Indonesia kaitanya di dalam menjelaskan biogafi dan sepak terjang  KH Turaikhan Adjuhri dalam keumatan dan kontribusinya dalam masalah keilmuan Falak.
Penulis berharap, dengan membaca makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita semua, khususnya bagi penulis. Dalam hal ini dapat menambah wawasan kita mengenai biografi dan pemikiran-pemikiran KH Turaikhan Adjuhri yang merupakan salah satu pakar ilmu Falak di Indonesia. Akhir kata, mungkin dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan. Kritik dan saran tentunya sangat kami harapkan demi perbaikan dan kesempurnaan. Akhirnya  penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, sehingga makalah ini dapat terselesaikan.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Tebuireng, 25 Mei 2016


Daftar Isi

Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
Daftar Gambar iii
BAB I  : Pendahuluan 1
A. Latar Belakang 1
B. Maksud dan tujuan penulisan 1
BAB II : Pembahasan 2
A. Kelahiran dan Latar Belakang Keluarg 2
B. Masa Pertumbuhan dan Belajarnya 2
C. Membina Rumah Tangga 4
D. Perjuangan dan Kiprah di Masyarakat 5
E. Karya dan keilmuanya 6
F. Pemikiranya 8
G. Menghadap Sang Pencipta 13
H. Pesan- pesanya 13
BAB III :Penutup 14
A. Kesimpulan 14
BAB IV : Daftar Pustaka 15


BAB I  : Pendahuluan

A. Latar Belakang

Ilmu falak adalah merupakan salah satu ilmu yang penting dalam Islam. Ilmu ini sangat berkaitan erat dengan penanggalan (kalender), waktu shalat, arah kiblat, dan gerhana. Untuk penanggalan (kalender) ini, Islam mengenal berbagai istilah penanggalan, di antaranya kalender Masehi dan Hijriah. Penanggalan Hijriah perhitunganya didasarkan pada peredaran Bulan mengelilingi Bumi menurut arah Barat-Timur atau disebut pula dengan penanggalan Qomariyah (bulan). Sedangkan penanggalan Masehi menggunakan penanggalan Syamsiyah (menghitung waktu berdasarkan masa edar matahari).


Bagi sebagian orang, ilmu ini dikenal sangat rumit. Sebab, dibutuhkan perhitungan-perhitungan dan pengamatan yang cermat dan teliti, sehingga menghasilkan perhitungan yang sesuai (tepat). Karena itu, acapkali terdapat perbedaan di kalangan ulama dalam menentukan waktu yang sesuai dengan yang sebenarnya. Dan hanya orang-orang yang telaten, rajin, dan giat yang mampu dan mau berkecimpung dalam bidang ini. 


Dalam hal ini, umat Islam Nusantara memiliki salah seorang tokoh falak dari kota Kudus Jawa Tengah yang layak diteladani dan dijadikan panutan. Beliau adalah KH Turaikhan Adjhuri Asy-Syarofi, yang semasa hidupnya dipercayai menjadi Ketua Markas Penanggalan  Provinsi Jawa Tengah. Ulama kelahiran Kudus, 10 Maret 1915, ini dikenal sebagai 'gurunya para ahli ilmu falak Indonesia'. Kepakarannya dalam bidang ini sudah tak diragukan lagi, mengingat keilmuan dan kapasitasnya yang dalam menekuni ilmu falak. 


B. Maksud dan tujuan penulisan

Makalah ini bertujuan untuk memberi  informasi mengenai biografi, pemikiran-pekiran dan kiprah KH Turaikhan Adjhuri Asy-Syarofi dalam keilmuan khususnya ilmu Falak dan jasa-jasanya di dalam bermasyarakat.  

BAB II : Pembahasan

A. Kelahiran dan Latar Belakang Keluarga

Diantara ulama besar kota Kudus yang kharismatik dan terkenal pada akhir abad 20 adalah Al Maghfurlah KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi yang lebih akrab dipanggil dengan sebutan Mbah Tur yang masih dianggap sebagai keturunan Syaikh Ja`far Shadiq atau Sunan Kudus.

Namun, Menurut KH. Khoiruzzad (putra dari KH. Turaikhan Adjhuri ) , Mbah Tur memiliki hubungan dengan garis keturunan KH. Mutamakkin (Kajen), seorang kiai karismatik yang dimakamkan di Kajen, Pati, Jawa Tengah,  yang mempunyai keturunan Ulama-ulama besar, seperti KH R. Asnawi, Raden Hambali, dan KH. Sahal Mahfudz.

Dari lampiran nasab yang diberikan oleh KH. Rofiq Chadziq (keponakan dari KH. Turaichan), diketahui bahwa kakek KH. Turaichan Adjhuri  yang bernama KH. Achmad Rifa’i memiliki nasab sampai Sunan Kudus dan Istri KH. Ahmad Rifa’i  yaitu Nyai Aminah (nenek KH. Turaichan) memiliki nasab sampai Syekh Achmad Mutamakkin (Kajen). Kedua silsilah tersebut didapat dari ibu beliau Dewi Sukainah (Istri dari KH.Adjhuri).

KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi dikenal sebagai pakar ilmu Falak atau Astronomi. Selain itu juga dikenal sebagai tokoh yang terkenal keteguhannya memegang prinsip dan akidah. Pendapat-pendapatnya dalam masalah fiqih juga sering mengejutkan kalangan ulama. Beliau lahir di Kuduspada tanggal 22 Rabiul Akhir 1334 H atau 10 Maret 1915 M. Ayah beliau bernama KH. Adjhuri sedangkan ibu beliau bernama Nyai Dewi Sukainah.

B. Masa Pertumbuhan dan Belajarnya

Pada masa kanak-kanaknya, KH. Turaikhan Adjhuri tumbuh dan berkembang seperti anak-anak pada umumnya. Turaikhan kecil hidup dalam lingkungan keluarga yang cinta agama dan ilmu pengetahuan. Sejak kecil sudah tampak kecintaannya pada ilmu agama. Waktunya banyak dihabiskan untuk belajar, mengaji dan muthalaah kitab. Beliau terkenal dengan anak yang cerdas, tegas dan teliti. Inilah ciri khas beliau yang dimiliki sejak kecil dan melekat sampai dewasa.Turaikhan kecil sedikit berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Jika umumnya mereka menyukai olahraga fisik, Turaikhan kecil tidak begitu suka pada olah raga fisik. Namun ada satu jenis permainan olah otak dan pikiran yang sangat beliau gemari yaitu catur. Beliau terkenal sangat pandai dalam bermain catur. Bahkan di masa kolonial Belanda beliau pernah diberi penghargaan karena kepiawaiannya dalam bermain catur.


Selain gemar bermain catur, sejak kecil beliau sudah menyukai seni bermain rebana. Kegemarannya bermain rebana ini terus berlanjut sampai beliau dewasa dan menjadi ulama besar. Maka ketika Madrasah TBS, tempat beliau mengajar,akan membuat Group Rebana, beliau sangat mendukungnya. Bahkan akhirnya Group Rabana TBS ini pernah menjuarai lomba rebana IPNU-IPPNU Kota Kudus.Ayah Turaikhan adalah seorang kiai sehingga dia belajar kepada sang ayah. Lingkungan tempat tinggalnya yang berdekatan dengan pesantren dan madrasah membuat Turaikhan hidup dalam suasana santri. Dan tidak seperti ulama besar pada umumnya, KH. Turaikhan tidak pernah secara resmi menjadi santri di pesantren manapun. Hanya saja beliau memang hidup di kota santri Kudus dan dilingkungan pesantren. Kebiasaan ini terbilang tidak lazim, kendati di pesantren dikenal dengan istilah santri kalong, yaitu santri yang belajar di pesantren, namun setelah belajar pada hari itu mereka kembali lagi ke rumahnya.Beliau memanfaatkan pengajian-pengajian yang digelar ulama kota Kudus. Bagi beliau belajar pada ulama di mana saja itu sama. Asalkan bersungguh-sungguh belajar, siapapun siapapun dapat memperoleh kesuksesan walau hanya di satu tempat karena Yang paling penting adalah keikhlasan niat dan kesungguhan belajarnya.

Dalam lingkup formal, beliau belajar di Madrasah Tasywiquth Thulab As Salafiyah atau disingkat TBS, di Kudus. Tepatnya sejak mulai berdirinya Madrasah TBS tahun 1928. Di madrasah TBS ini, beliau mendapat kesempatan belajar ilmu alat pada KH. Abdullah Aljufri, ilmu fiqih pada KH Muhit, ilmu falak pada KH. Abdul Jalil Hamid dan ilmu pengetahuan dan agama yang lainnya dari para kyai yang mengajar di TBS pada waktu itu.

Selain belajar di Madrasah TBS, di luar jam madrasah beliau juga belajar pada ulama terkemuka Kudus pada zamannya, semisal. KH. R. Asnawi, K. Maksum bin Ali Kuaron dari Jombang yang merupakan menantu dari KH. Hasyim Asy`ari, K. Fauzan, K. Ma`sum, ayah Kyai Fauzan, Kyai Muslim yang merupakan kakak dari Kyai Amin Said dan masih banyak lagi.

Di madrasah ini, Turaikhan hanya mengenyam pendidikan formal selama dua tahun saja. Namun karena kemampuanya yang melebihi rata-rata, maka beliau justru diperbantukan untuk membantu pelaksanaan belajar mengajar. Padahal ketika itu usia beliau masih 14 tahun. Mata pelajaran yang diajarkanya adalah ilmu Faroidh (ilmu waris) dan ilmu Falak (astronomi). Dua bidang ilmu inilah yang kelak akan melambungkan KH. Turaikhan. Namun demikian beliau tetap melanjutkan menuntut ilmu dalam garis tradisional (non formal).

C. Membina Rumah Tangga

Pada usianya yang ke- 27 tahun, tepatnya tahun 1942, KH. Turaikhan membangun rumah tangga dan menyunting seorang gadis shalehah bernama Masni`ah binti Marwan untuk dijadikan pendamping hidupnya. Dari pernikahannya dengan Nyai Masni`ah beliau dikaruniai 10 orang putera puteri. Namun kini yang tinggal hanya 4 orang (2 putra dan 2 puteri) yaitu KH. Choirozad yang sekarang mengajar di Madrasah TBS Kudus. Anak beliau yang kedua dan ketiga adalah perempuan yang bernama Fihris dan Naila. Putra beliau yang terakhir bernama Drs. Sirril Wafa, MA yang sekarang menjadi dosen di IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Pada tahun 1969 untuk pertama kalinya beliau berangkat ibadah haji untuk pertama kalinya. Dan pada tahun 1992 beliau kembali berangkat haji ke tanah suci bersama puteranya yang bernama KH. Choirozad dan ulama Kudus lainnya.


D. Perjuangan dan Kiprah di Masyarakat

Dalam dunia pendidikan dedikasi Mbah Tur yang dipersembahkan untuk generasi penerus bangsa dan agama sangatlah besar. Kapasitas keilmuannya juga sulit dicari padanan dan gantinya. Pasalnya ketika beliau berumur 14 tahun beliau sudah mampu mengajar di Madrasah TBS Kudus. Khususnya dalam bidang ilmu Falak dan Faraidh, sampai sekarang banyak kalangan ulama di Kudus yang merasakan belum menemukan pengganti beliau.

Selain mengajar di madrasah TBS, beliau juga membuka pengajian kitab kuning di rumahnya. Sehari-harinya beliau juga sibuk memberikan pengajaran dan pengajian di masjid dan majlis-majlis pengajian di kota Kudus dan sekitarnya. Dalam bulan-bulan tertentu, misalnya Sya`ban dan Ramadan beliau mengajar kitab-kitab khusus. Misalnya pada bulan Sya`ban, beliau mengajar kitab-kitab yang beliau ajarkan di Madrasah TBS tapi belum khatam. Biasanya untuk kesempatan ini banyak santri-santri TBS mempergunakannya dengan sebaik-baiknya. Mereka datang berduyun-duyun untuk mengaji di kediaman beliau demi mengkhatamkan sebuah kitab. Bagi santri mengkhatamkan sebuah kitab langsung dibawah asuhan seorang ulama besar adalah suatu kebahagiaan dan keberuntungan yang tiada taranya. Lain halnya di bulan Ramadhan, beliau mengajarkan kitab-kitab tertentu seperti kitab Adzkiya, Isyadul Ibad, dan Hikam yang digunakan sebagai aurod atau wirid tetap pada bulan Ramadhan. Namun pada tahun-tahun beliau menginjak usia senja dan menjelang wafat, beliau selalu mengajarkan kitab-kitab tentang akidah atau teologi mulai dari yang kecil seperti Tuhfah al Murid sampai yang besar seperti Dasuqi.

Untuk mengawal kegiatan dakwahnya ,KH. Turaihan atau Mbah Tur Tak hanya aktif dalam dunia pendidikan, tapi juga  ikut aktif dan andil bagian dalam organisasi kemasyarakatan terkemuka, yaitu Nahdhotul Ulama. Dalam Organisasi ini beliau aktif sebagai pengurus di NU Kudus. Beliau bahkan pernah ditunjuk sebagai musytasyar dalam muktamar NU. Juga pernah sebagai anggota Tim Lajnah Falakiyah PBNU. Pernah ditunjuk sebagai panitia Ad Hoc PBNU Pusat dan juga pernah menjabat Rais Syuriah NU Cabang Kudus. Jabatan sebagai Tim lajnah  Falakiyah PBNU  mempopulerkan nama kiai ini sebagai pakar falak nasional.


Partisipasi Mbah Tur dalam Muktamar NU merupakan suatu keistimewaa tersendiri bagi ulama yang terkenal dengan teguhnya memegang prinsip dan pendapat ini. Pada saat beliau yang baru berumur 15 tahun sudah ikut andil dalam berbagai Muktamar yang digelar oleh Jam`iyyah NU, yang keikutsertaanya bukan sebagai partisipan pasif tapi sebagai seorang musyawir aktif. Dalam usia yang muda beliau telah ikut memberikan pendapat dalam pelbagai forum bahtsul masail yang digelar dalam muktamar. Seringkali pendapat beliau bergesekan dengan ulama yang yang lebih tua dari beliau.


Selain pengabdian beliau pada NU, beliau juga ikut menyumbangkan pikiran, tenaga dengan ditunjuknya beliau sebagai hakim agama di Kudus. Beliau juga pernah ditunjuk sebagai tim rukyah dan hisab oleh Depag. Juga pernah berkiprah dalam dunia politik sekitar tahun 1955. Karir politik tertinggi yang pernah beliau capai adalah terpilihnya beliau anggota konstituante mewakili NU yang kala itu menjadi parpol. Menurut para ahli pemilu pertama republik ini tahun 1955, merupakan pemilu paling jujur, perolehan suara NU menempati posisi ke-3 setelah Partai Nasional Indonesia (PNI) dan Masyumi, lalu disusul Partai Komunis Indonesia yang menempati posisi ke-4.


E. Karya dan keilmuanya

Sebeumnya telah disebutkan, bahwa KH. Turaihan mengajar ilmu faroidh dan ilmu falak ketika mengajar di madrasah TBS Kudus. Dua ilmu itu pula yang menjadi keahlianya hingga dikenang masyarakat Kudus dan umat Islam pada umumnya. KH. Turaihan pernah menulis jadwal Faroidh. Kitab yang ditulis beliau ini dinilai banyak kalangan sangat praktis dan mudah dipahami. KH. Turaihan termasuk kiai yang menjaga kelangsungan ilmu ini. Karena dalam sebuah hadis disebutkan, bahwa ilmu faroidh termasuk ilmu mula-mula yang akan dihilangkan dari muka bumi dengan cara menghilangkan nyawa orang-orang yang ahli dalam bidang ini.

Kepakaranya dalam bidang falak dibuktikanya dengan diterbitkanya  Almanak Menara Kudus setiap tahunnya sampai beliau wafat. Almanak Menara Kudus ini adalah trade mark beliau dan mendapat kepercayaan dari masyarakat luas di penjuru pulau Jawa. Kepercayaan ini tak lepas dari kepakaran beliau dalam ilmu Falak atau ilmu Astronomi yang telah terbukti pada ketepatan hisab beliau. Misalnya mengenai hisab prediksi akan terjadinya gerhana bulan pada hari ini jam ini menit ini detik ini dan akan terjadi selama sekian lama, ternyata terbukti nyata. Bahkan sebelum wafat, beliau telah membuat almanak 200 tahun ke depan atau 2 abad. Sehingga setelah beliau wafat almanak yang beliau buat terus diterbitkan setiap tahunnya oleh Penerbit Manara Kudus. Beliau juga telah membimbing muridnya untuk membuat Hisab Urfi Hijriyah dari tahun 0 sampai tahun 4329 H, yang berarti telah membuat hisab urfi untuk dua ribu lima ratus tahun ke depan.


Jika berbicara masalah ilmu Falak di Indonesia tidak bisa meninggalkan nama KH. Turaihan. Namanya bahkan sering ditulis oleh media massa baik lokal maupun nasional tatkala ada perbedaan penentuan hari raya antara pemerintah dan tim lajnah Falak NU yang beliau pimpin. Beliau bahkan pernah dipanggil oleh Kodim berkaitan dengan pendapat beliau yang berbeda dengan pemerintah mengenai jatuhnya hari raya Idul Fitri.

Untuk ilmu Falak, KH. Turaihan tidak menuangkan buah pikirannya dalam bentuk buku. Namun di tangan beliau telah lahir ilmuan ahli Falak yang sangat mumpuni seperti Kyai Abu Saiful Mujab Nur Ahmad Ibn Shadiq Ibn Siryani, Ahmad Rofiq Chadziq, Sirril Wafa dan lain sebagainya.

Pada tahun 1985, KH. Turaihan mendorong salah seorang muridnya yang ikut mengajar di Madrasah TBS yaitu Kyai Abu Saiful Mujab Nur Ahmad Ibn Shadiq Ibn Siryani untuk mengkodifikasikan semua ilmu Falak yang telah beliau ajarkan kepadanya dalam bentuk sebuah karya yang sesuai dengan perkembangan zaman modern. Akhirnya pada tahun 1986, lewat tangan muridnya itu terbitlah buku-buku diktat pengajaran ilmu Falak yang merupakan buah ilmu yang telah diajarkan oleh KH. Turaihan. Buku diktat itu langsung dilihat dan diperiksa oleh KH. Turaihan setelah sebelumnya terlebih dahulu di periksa dan ditashhih oleh Ustadz Ahmad Rofiq yang juga murid KH. Turaihan. Melihat terbitnya buku-buku itu, KH. Turaihan merasa lega dan ia merasa tidak perlu lagi menulis karya dalam ilmu Falak, sebab tulisan muridnya yang merangkum semua yang telah dia ajarkan sudah dirasa cukup. 

F. Pemikiranya           Di kalangan ulama dan warga Nahdhatul Ulama, KH. Turaihan tidak hanya dikenal kepakarannya dalam ilmu Falak dan Faraidh saja, namun juga dikenal sebagai ahli fiqih yang pendapatnya sering membuat kaget banyak orang. Dan dalam akidah atau keyakinan, beliau adalah sosok yang memiliki keteguhan memegang prinsip dan keyakinan yang telah ia imani kebenarannya.


Kiai Turaikhan tidak sungkan-sungkan untuk menyampaikan pendapatnya meskipun bersebrangan dengan pendapat mayoritas. Apa yang menurut Kiai  Turaikhan benar akan disampaikan apa adanya. Beliau tampaknya benar-benar melaksanakan hadis Nabi bahwa kita harus menyampaikan kebenaran meskipun terasa pahit atau tidak populer (qulil haqqa wa lau kaana murran). Di bawah ini adalah beberapa pendapat beiau yang berseberangan dengan pendapat mayoritas kiai NU.

Pertama, Dalam majlis Bahtsul Masail yang digelar pada Muktamar NU Ke-26 pada tanggal 5 – 11 Juni 1979 di Semarang, KH. Turaihan mengutarakan pendapat yang cukup mengejutkan. Karena pendapat itu berseberangan dengan mayoritas ulama dan terutama berseberangan dengan pendapat KH. Bisri Samsuri, Rois `Am PBNU kala itu.

           Masalah yang dijadikan musyawarah dalam majlis itu adalah, “Apakah Al Quran boleh ditulis atau dicetak dengan huruf latin (selain huruf Arab rasm Utsmani) atau dengan tanda baca lain selain huruf brail? Dan apakah sama hukumnya dengan mushaf?”

  Dalam musyawarah itu, KH. Turaihan berpendapat boleh saja Al Quran ditulis atau dicetak dengan huruf latin (selain huruf Arab rasm Utsmani). Hanya saja beliau mensyaratkan saat membacanya harus tetap memakai kaidah tajwid yang benar. KH. Turaihan dalam melontarkan pendapat ini dengan tujuan untuk memudahkan orang yang tidak bisa membaca huruf Arab agar bisa dan berkesempatan membaca Al Quran. KH. Turaihan mendasarkan pendapatnya pada pendapat Imam Romli sebagaimana tertera dalam kitab Hasyiah al Tuhfah juz I hal 154, kitab Al Bijaerami `ala al Iqna` juz I halaman 304, Hasyiyah al Qalyubi juz I halaman 36, dan Hasyiyah al Jamal `ala al Minhaj juz I hal 76.

  Pendapat ini tentu saja membuat kaget para ulama peserta musyawarah yang hadir. Tak ayal lagi, musyawarah itu memanas dan mayoritas ulama yang ada menentang pendapat KH. Turaihan itu temasuk KH. Bisri Samsuri. Mereka berpegangan pada fatwa Imam Ibnu Hajar yang mengharamkan penulisan Al Quran dengan selain huruf Arab sebagai mana tertera dalam kitab I`anatu al Thalibin juz I hal 67 dan 68.

  Akhirnya majlis sepakat untuk memutuskan masalah ini sebagai berikut:a. Menulis Al Quran dengan tulisan selain huruf Arab termasuk tulisan latin sudah sepakat antara Imam Ibnu Hajar dan Imam Ramli tentang haramnya apabila merubah bunyi dan tulisan Al Quran. Bahwa menulis Al Quran dengan huruf latin ada manfaatnya terutama bagi orang yang buta huruf Arab. Tetapi bahayanya lebih banyak, antara lain akan mengurangi perhatian terhadap belajar membaca dan menulis huruf Arab. Juga, huruf latin tidak mencukupi bunyi-bunyi huruf Arab. Apabila Al Quran ditulis dengan huruf latin, maka bunyinya tidak akan sama dengan bunyi Al Quran yang berbahasa Arab itu dan akan merubah bunyi Al Quran dan tulisannya. Sedangkan merubah Al Quran itu dilarang (haram).

b. Apabila tidak merubah, maka menurut Imam Ibnu Hajar hukumnya tetap haram. Sedang menurut Imam Ramli hukumnya boleh. Pendapat Imam Ibnu Hajar inilah yang lebih mu`tamad (lebih kuat dan bisa dibuat pegangan). Selanjutnya menurut pendapat Rais `Am PBNU, KH. Bisri Sansuri mengenai ketengan dalam kitab Hasyiyah al Qalyubi juz I halaman 36 atau sesamanya adalah sebagai berikut: 

“Selanjutnya apabila menulis Al Quran dengan tulisan bukan tulisan Arab dianggap boleh, maka hukumnya sama dengan mushaf di dalam hal menyentuh dan membawa, dan sebaliknya. Dan berkenaan dengan penulisan Al Quran dengan huruf brail bagi orang buta, hukumnya boleh karena hajat. Dan mengenai penulisan Al Quran dengan huruf Arab bukan rasm Utsmani terdapat tiga pendapat. Dan yang kuat adalah pendapat Imam Malik serta Imam Ahmad, yaitu tidak boleh, sebagaimana keterangan yang ada dalam kitab I`anatu al Thalibin Juz I halaman 168” (Masykuri, 1996).

  Kedua, Dalam sebuah munazharah di masjid Menara Kudus, KH. Turaihan juga pernah mengeluarkan pendapat menentang arus dalam masalah wajib tidaknya membayar pajak. Menurutnya, membayar pajak tidak wajib zhahiran wa bathinan (baik secara lahir maupun batin), yang wajib adalah membayar zakat. Dalam masalah membayar pajak ini, di kalangan ulama Kudus memang ada tiga pendapat yaitu;

Pertama, wajib baik secara lahirnya maupun batin. Kedua, wajib secara lahir tetapi secara batin tidak wajib. Dan yang ketiga adalah tidak wajib baik secara lahir maupun batin. Adapun membayar zakat adalah termasuk hal yang ma`lum min al din bi dharurah akan kewajibannya jika telah sampai pada syarat-syaratnya (Awali, 2003).

  Ketiga, tahun 1984 NU adalah organisasi pertama yang menyatakan Pancasila sebagai asasnya. Keputusan yang dikeluarkan pada muktamarnya yang ke-27 di Situbondo in lalu diikuti organisasi lain. Ketika itu pemerintah Orde Baru memang mewajibkan seluruh organisasi seluruh tanah air harus berasaskan Pancasila . Menanggapi hal ini, Dengan terang-terangan KH. Turaihan tidak setuju NU berubah asas. Sebagai organisasi massa umat Islam maka asasnya harus tetap Islam dan dasar pijakannya harus istiqamah Al Quran dan Al Sunnah. Beliau menentang keras asas tunggal ini. Bahkan secara terbuka, demi mempertahankan prinsip dan keyakinan yang beliau anggap benar ini, beliau bersedia dan tidak merasa menyesal seandainya dikeluarkan dari NU. Keteguhan memegang prinsip ini sampai sekarang masih terus dikenang dan dijadikan semacam keteladanan oleh masyarakat santri kota Kudus.


Kendati berbeda pandangan, Kiai Turaichan tetap menjalin hubungan yang baik dengan pihak-pihak yang sering menolak keputusannya. Bahkan, ia juga selalu bersikap akomodatif pada pemerintah, walaupun pemerintah pernah beberapa kali mencekalnya. Pencekalan dilakukan karena Kiai Turaichan mengeluarkan pernyataan berbeda dengan pemerintah perihal penentuan awal bulan Syawal.

  Ia pernah sidang ke pengadilan pada 1984, ketika menentang perintah pemerintah untuk berdiam diri di rumah saat terjadi gerhana Matahari total pada tahun tersebut. Alih-alih menaati perintah itu, ia justru mengajak umat untuk melihat peristiwa tersebut secara langsung dengan mata kepala telanjang. Pada waktu terjadi peristiwa gerhana Matahari total tersebut, ia memberi pengumuman kepada umat Muslim di Kudus, bahwa gerhana Matahari total adalah fenomena alam yang tidak akan menimbulkan dampak (penyakit) apa pun bagi manusia jika ingin melihatnya, bahkan Allahlah yang memerintahkan untuk melihatnya secara langsung.

  Hal ini dikarenakan redaksi kabar mengenai fenomena alam itu menunjukkan keagungan Allah ini difirmankan oleh Allah menggunakan kata  abshara , yang berarti melihat secara langsung dengan mata, bukan makna denotatif seperti mengamati, meneliti, dan lain-lain, meskipun memang ia dapat berarti demikian secara lebih luas.

  Pada hari terjadinya gerhana Matahari total di tahun tersebut, Kiai Turaichan tengah berpidato di Masjid al-Aqsha, menara Kudus. Di tengah-tengah pidato, ia mengajak jamaah untuk menyaksikan langsung gerhana tersebut.

''Wahai Saudara-saudara, jika kalian tidak percaya, maka buktikan. Sekarang peristiwa yang dikatakan menakutkan, sedang berlangsung. Silakan keluar dan buktikan, bahwa Allah tidak menciptakan bala atau musibah darinya. Silakan keluar dan saksikan secara langsung!''

  Maka, para jamaah pun lantas berhamburan keluar, menengadah ke langit dan menyaksikan secara langsung dengan mata kepala telanjang terjadinya gerhana Matahari total. Setelah beberapa saat, para jamaah kembali ke tempatnya semula, dan Kiai Turaichan melanjutkan pidatonya. Dan faktanya, memang tidak terjadi apa-apa, termasuk musibah yang didengungkan oleh pemerintah.

  Namun karena keberaniannya ini, Kiai Turaichan harus menghadap dan mempertanggungjawabkan tindakannya di depan aparat negara yang sedemikian represif waktu itu. Meski demikian, sama sekali ia tidak menunjukkan tabiat mendendam terhadap pemerintah.

  Bahkan, hingga menjelang akhir hayatnya pada 20 Agustus 1999, ia termasuk ulama yang sangat antusias mendukung undang-undang pencatatan nikah oleh negara yang telah berlaku sejak 1946. Kiai Turaichan sangat getol menentang praktik-praktik  nikah siri atau di bawah tangan. Menurutnya, selama hukum pemerintah berpijak pada kemaslahatan umat dan tidak bertentangan dengan syariat Islam, maka wajib bagi seluruh umat Muslim yang menjadi warga negara Indonesia untuk menaatinya. Artinya, pelanggaran atas suatu peraturan (undang-undang) tersebut adalah juga dihukumi sebagai kemaksiatan terhadap Allah. Demikian pun menaatinya, berarti adalah menaati peraturan Allah.Hal inilah yang membuat kharisma dan kealiman Kiai Turaichan semakin diperhitungkan. Tak heran, bila namanya sangat masyhur sangat ahli ilmu falak yang sangat disegani.


G. Menghadap Sang Pencipta

  Kiai Turaikhan dikaruniai usia yang cukup panjang, 84 tahun. Kiai ahli falak ini menghembuskan nafas trakhirnya pada malam Sabtu, 9 Jumadil Awal 1420 Hijriyah bertepatan 20 Agustus 1999 Miladiyyah dan dimakamkan di Kudus. Karya, pemikiran dan perjuangannya telah dirasakan oleh masyarakat Kudus dan sekitarnya, bahkan oleh masyarakat Indonesia secara lebih luas. 


H. Pesan- pesanya

Beliau wafat dengan meninggalkan pesan yang sampai sekarang masih diingat oleh banyak orang. Pesannya pada keluarga, santri dan umat Islam secara umum adalah :

1) Segala langkah, prilaku dan perbuatan hendaklah ditimbang dengan timbangan syariah. Sesuai dengan syariat apa tidak? Melanggar syariat apa tidak?

2) Di akhir zaman ini janganlah mudah heran, takjub dan terlena pada hal-hal yang baru. Bisa jadi hal yang baru itu ternyata merusak agama dan keimanan. Dalam bahasa Jawa beliau mengatakan dengan singkat, “Ojo gumunan ojo gampang kepencut.”

3) Beliau berpesan dengan syair yang ditulis Imam Fudhail Ibn Iyad; “Alaika bi thariqil huda, Wala yadhurruka qillatus salikin Wa iyyaka wa turuwur rada, wala taghtar bikatsratil halikin Wazinu bil qistasil mustaqim. Dzalika khairun wa ahsanu ta`wila”, “Tetaplah pada jalur yang benar, sedikit orang yang menjalaninya tidak mengapa. Awas dan hindarilah jalan kerusakan, jangan terbujuk mesti banyak yang terjerumus ke dalamnya. Timbanglah dengan timbangan yang lurus itu lebih baik." 


BAB III :Penutup

A. Kesimpulan

a) KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi dikenal sebagai pakar ilmu Falak atau Astronomi. Tidak hanya ahli dalam ilmu Falak, KH. Turaikhan juga ahli dalam ilmu Faroidh, Fiqh dan berbagai cabang ilmu lainya. Padahal beliau tidak pernah secara resmi menjadi santri di pesantren manapun. Hanya saja beliau memang hidup di kota santri Kudus dan dilingkungan pesantren. Tapi karena kegigihanya dan kemampuanya yang melebihi rata-rata, maka beliau justru diperbantukan untuk membantu pelaksanaan belajar mengajar. Padahal ketika itu usia beliau masih 14 tahun.

b) Sejak kecil sudah tampak kecintaannya pada ilmu agama. Waktunya banyak dihabiskan untuk belajar, mengaji dan muthalaah kitab.Selain belajar di Madrasah TBS, di luar jam madrasah beliau juga belajar pada ulama terkemuka Kudus pada zamannya, semisal. KH. R. Asnawi, K. Maksum bin Ali Kuaron dari Jombang yang merupakan menantu dari KH. Hasyim Asy`ari, K. Fauzan, K. Ma`sum, ayah Kyai Fauzan, Kyai Muslim yang merupakan kakak dari Kyai Amin Said dan masih banyak lagi.

c) Kendati kadang berbeda pandangan an pemikiran, Kiai Turaichan tetap menjalin hubungan yang baik dengan pihak-pihak yang sering menolak keputusannya. Bahkan, ia juga selalu bersikap akomodatif pada pemerintah, walaupun pemerintah pernah beberapa kali mencekalnya.

d) KH. Turaikhan juga dikenal sebagai tokoh yang terkenal keteguhannya memegang prinsip dan akidah. Walaupun pendapatnya kadang berbeda dengan mayoritas tapi beliau tetap kuat dan teguh memegang pendapat yang ia yakini kebenaranya.











BAB IV : Daftar Pustaka

Ahmad Musonnif,Ilmu Falak, Yogyakarta: Penerbit Teras, 2011

A.Khoirul Anam (ed), Kisah Ulama Berjuang Dan Mengawal Bangsa ,Tangerang:                

Pustaka Compass, Yayasan Compass Indonesiatama, Anggota IKAPI, Juli  2015)

fahmialinh, KH. Turaichan Adjhuri as Syarofi Kudus , 29 Juni, 2015, 

https://fahmialinh.wordpress.com/2015/06/29/kh-turaichan-adjhuri-as-syarofi-kudus/ ,Diakses pada  24 Mei 2016

Ibnu Mahdi Al 'Uraydhi Al Bantani, KH Turaikhan Adjhuri As Syarofi, Kudus Jateng,      


2011-09-02 20:13, http://pelitatangerang.xtgem.com/index/__xtblog_entry/93729-kh-turaikhan-adjhuri-as-syarofi-kudus-jateng?__xtblog_block_id=1, Diakses pada 24 mei 2016

M. Solahudin, Ahli Falak dari Pesantren (Kediri: Nous Pustaka Utama, Juni 2012)

Muhammad Hasyim dan Ahmad Athoillah, Biografi Ulama’ Nusantara ( Bojonegoro:  

Kakilangit Book,Cetakan III, Febuari 2012) 


Pelapang Rizqi

DAWUH SYAEHK AL ALLAMAH ROMO KH.MAIMON ZUBER SARANG
Syaikhina KH. Maimoen Zubair sering menyampaikan sebuah nasehat, “Mbesok nek wes omah-omah, ojo lali, angger mlebu omah moco Qulhu ping pisan”. (Besok jika sudah berumah tangga, setiap masuk rumah jangan lupa membaca surat Al Ikhlas walaupun cuma sekali.)
Ternyata nasehat beliau ini bukan sembarang nasihat, karena hal itu telah disabdakan oleh Junjungan Kita, Nabi Besar Muhammad SAW,
عن سهل بن سعد : « جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم وشكا إليه الفقر فقال : إذا دخلت بيتك فسلم إن كان فيه أحد وإن لم يكن فيه أحد فسلم على نفسك ، واقرأ قل هو الله أحد مرة واحدة ففعل الرجل فأدر الله عليه رزقاً حتى أفاض على جيرانه »
Sahal bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu berkata: “Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengadukan kefakiran yang menimpanya. Lalu beliau bersabda: “Apabila kamu masuk ke rumahmu, ucapkanlah salam jika ada seseorang di dalamnya. Dan jika tidak ada orang di dalamnya, ucapkan salam untuk dirimu, dan bacalah Qul huwallaahu ahad satu kali.” Lalu laki-laki tersebut melakukannya. Maka Allah melimpah ruahkan rizki orang tersebut sehingga mengalir kepada tetanga-tetangganya.”
( MafatihilGhoib, Surat al-Ikhlash)SMG BERMANFAAT HDP KITA BERKAH HUSNILKHOTIMAH AMIN AMIN AMIN YA ROBAL 'ALAMIN